Feeds:
Posts
Comments

Membaca sebuah notifikasi dari facebook saya yang rupanya, teman-teman Binusian2009 yang tergabung dalam grup Arisan binusian2009 mengadakan penutupan Arisan putaran ke 2 ini yang diadain di Kawasan Wisata Gunung Bunder di Salak Endah, Bogor, Jawa Barat. Ngeliat dan tau lokasi yang lumayan deket , wait? deket? iya, deket kok kalo dari rumah, cobain deh, kalo gak deket juga yah jauh berarti hahaha. Nah berhubung pas banget nih, lokasinya gak terlalu jauh juga (gak jadi bilang deket deh :mrgreen: padahal emang deket loh) , planningin bakalan kesana naik motor, itung-itung short trip pemanasan ke Sawarna bareng FR2 Chapter Tangerang nanti. Tapi rencana cuman rencana, si kesayangan my Redzzo (re: pulsar220) rupanya sudah ada peminatnya dan harus dilepas H-7 sebelum keberangkatan. kontak sana-sini ternyata bro Bayu berbaik hati sekali loh dengan meminjamkan si Tigy buat saya tunggangi, yiiha tinggal siapin rute.

Tadinya saya pikir ada yang barengan juga naik motor, oh ternyata saya sendiri rupanya, hahaha, gak apa-apalah sudah biasa sendiri #eeaa , cari rute buat kesana, emang sih udah pernah kesana, tapi naik mobil bareng temen juga, jadi ambil rute aman yah kalo dari rumah saya di Karawaci ambil arah BSD terus menuju Puspitek melewati Serpong kemudian masuk ke Ciseeng Prumpung terus hingga ke arah Jalan Raya Parung Bogor, kemudian di Pertigaan Soleh Iskandardinatta (tanah sareal) belok kanan buat ke arah IPB Dramaga, dari IPB Dramaga lurus terus ikutin jalan hingga nanti ke Jalan Raya Leuwiliang, karena jalannya itu aja terus belok kiri di plang jalan arah masuk Gunung Bunder. itu rute aman, yang saya tau, tapi kali ini saya mau nyeleneh, yakin ada jalan lain buat memotong jalan buat sampe ke jalan raya Leuwiliang. cek di Gmaps akhirnya nemu juga, kalo tadi dari arah BSD terus menuju Puspitek melewati Serpong kemudian masuk ke Ciseeng Prumpung kali ini ambil yang ke arah Rumpin kemudian belok kiri ke arah Ciampea hingga tembus ke Jalan Raya Leuwiliang.

Ini Rutenya

Ini Rutenya (klik aja)

Arah Papan Jalan Jelas. (foto: gilang)

Kondisi jalannya? kalo di Ciseeng Prumpung seperti biasa, Continue Reading »


Pir..kiri pir..!

Pir..depan stop pir..!

Beberapa diantara kita mungkin pernah mendengar ucapan seperti kalimat diatas ketika naik kendaraan angkutan umum, entah itu di angkot, metromini ataupun di bus. Biasanya panggilan ‘Pir’ tersebut ditujukan kepada pengemudi atau supir dari kendaraan yang sedang dinaikinya, mungkin agar terdengar lebih singkat dengan memanggil si pengemudi dengan sebutan ‘Pir’ istilahnya ya panggilan dari si supir kendaraan tersebut. Mereka yang mungkin sudah biasa memanggil dengan sebutan ‘Pir’ ya biasa saja, tapi apakah tidak merasa terdengar aneh? jujur bagi saya sendiri sih terdengar aneh banget, kayaknya gak asik dan rasanya kurang etis aja gitu memanggil supir kendaraan dengan sebutan ‘Pir’ , kenapa aneh? ya karena kesannya kok jadi merendahkan kegiatan/pekerjaan tersebut. Seperti terjadi penurunan makna ketika menyebut kata supir dengan menyebut kata ‘pir’ (bagi yang ahli tata bahasa pasti lebih mengerti monggo dikoreksi). “Loh memang itu kan pekerjaan mereka, ya supir jadi kalau kita panggil ‘pir’ ya sah sah saja” begitu kata teman saya. Namun bagi saya tetap saja pengemudi/supir merupakan pekerjaan yang punya nilai, dan sekali lagi bagi saya panggilan ‘Pir’ kepada pengemudi terkesan merendahkan pekerjaan tersebut, dan menginterpretasikan bahwa yang memanggil ‘pir’ itu seakan lebih tinggi.

Saya memang bukan ahli tata bahasa Indonesia, tapi setidaknya saya paham bagaimana menghargai orang lain yang sedang bekerjasama dengan kita dengan panggilan/sebutan yang enak didengar. Lagipula apa susahnya sih kalau kita sedang naik angkutan umum dan ingin berhenti mengganti kata panggilan ‘pir’ tadi dengan ‘pak’ , misalnya “Pak, kiri depan pak” atau “Pak ..depan stop pak”  gimana? lebih enak didengar kan dibanding seperti kalimat yang ada di awal tulisan ini.

Pengemudi angkutan umum

Pengemudi angkutan umum. (sumber foto: istimewa, google)

Petuah Sang Guru


Pada awal tahun baru kemarin, tak disangka saya kembali bertemu dengan sosok teladan, sosok teladan seorang guru yang mengajar saya waktu bergelut di Madrasah Gunung Jati. Pak Edy namanya, perawakannya tidak terlalu tinggi dengan belahan rambut lurus pendek khas pengajar saya masih mengingatnya, hanya saja kerutan-kerutan di wajahnya dan juga uban di rambutnya semakin bertambah menandakan usianya.
Saya menyapa khas, tak lupa salam salim saya ucapkan, ketika saya menyapa terlebih dahulu dan mengingatkan bahwa saya adalah muridnya waktu menimba ilmu agama di MDA Gunung Jati beliau pun diam sejenak memperhatikan saya, 3 detik kemudian beliau langsung tertawa. Hebat beliau ingat hampir semua kelakuan saya, prestasi belajar saya.
Cerita demi cerita mengalir begitu saja, tak lama hanya sekitar 10 menitan saya berbincang dengan beliau. Di akhir perbincangan beliau menitipkan pesan “apa yang sudah kamu dawamkan, terus dawamkan, istiqomah, ikhlas, jangan tanya hasilnya kapan, jalankan saja.. Insya Allah akan indah di dunia dan akherat nanti” dan kemudian membisikkan saya sesuatu (maaf tak bisa saya share disini) yang #Jleb banget, seakan mengetahui permasalahan yang dilanda muridnya, ketika saya bertanya mengapa dan bagaimana, beliau hanya tersenyum “sejatinya guru takkan pernah lupa pada muridnya dan akan selalu membantu dan mendoakan yang terbaik untuk muridnya” ujarnya. Setelah itu beliau pun pamit dan menepuk pundak saya dua kali kemudian melanjutkan perjalanan dengan sepedanya. Tak lama saya segera menyelesaikan urusan yang sedang saya urus kemudian bermaksud untuk menyusul dan menawarkan singgah dirumah saya sejenak, tapi aneh, saya tak melihatnya lagi sepanjang jalan itu.
Terima kasih guru atas petuahmu yang begitu bermakna.


My Redzzo at Tanjung Layar

My Redzzo at Tanjung Layar

Keesokan harinya saya terbangun tepat jam 5 pagi, ahh kulihat bro Bayu sedang mengambil air wudhu untuk subuhan, akupun menunggu giliran, setelah semua personil menunaikan ibadahnya, kami mengobrol sembari menikmati pagi itu, pak terasa sudah hampir jam 6 pagi dan langit sudah terang, tak mau kehilangan momen dan waktu yang terbatas, kami menuju ke bawah untuk memanaskan motor dan langsung menuju Tanjung Layar, jalanan di sekitar menuju Tanjung Layar becek dan agak sedikit berlumpur pasir pantai karena semaleman diguyur hujan, tapi ada banyak bagian yang aman untuk dilewati, tetep asik pokoknya.

The Motors

The Motors

Mari berpose :D

Mari berpose :D

The Motors

The Motors

Tiba di Tanjung Layar, saya kembali terpesona akan keindahan ciptaan Sang Khalik, luar biasa, dua karang besar yang seakan menjadi simbol pantai Sawarna sekarang tepat berada di depan mata. Langsung kami berebut cari posisi yang bagus untuk menempatkan motor kami dengan latarbelakang karang Tanjung Layar, sialnya karena motor saya lumayan berat jadi agak susah parkir dan dapet spot sisa, nasib :mrgreen: . Setelah motor diparkir dengan kokoh, para personil dengan kamera masing-masing memfoto objek motornya loh, saya pun ikut ingin memfoto motor saya, merogoh kantong dan “haiyahh lupa kalo hp lagi di charge di kamar” , berhubung ada bro Aan saya pun meminjam kamera bro Aan dan bro Bayu ihihihihihi. Sejenak memandangi keadaan sekitar, rasanya tenang, damai palagi dengan deburan-deburan ombak yang mengantam karang panjang yang ada di belakang dua karang utama yang besar tersebut, dan udaranya pun masih sejuk walaupun sinar matahari di sisi timur sudah naik.

Seakan penasaran dengan dua karang yang menjulang dan melihat banyak pengunjung lain bisa nyebrang hingga ke karang tersebut , kami pun memutuskan menyebrang menuju dua karang berbentuk layar, keren euy kita serasa nyebrangin laut loh, airnya dingin, jernih banget, pagi itu air pada saat kami menyebrang hanya sampai sedikit diatas lutut kami, sesekali agak sampai ke paha, seru!.

Para Sahabatku

Para Sahabatku

Nyebrang laut euy

Nyebrang laut euy hihihihi

Nyebrang laut :p

Nyebrang laut :p

Sampai di depan bagian dua karang Tanjung Layar persis Continue Reading »


Sawarna!

Sawarna!

Setelah melewati jembatan gantung, kami langsung menuju tempat penginapan yang akan kami tempati hingga besok, pilihan kami ialah penginapan Java Beach Vilage dengan bangunan yang paling mencolok, karena berlantai dua dan dengan gaya cukup modern dibanding penginapan/homestay sekitar dan halaman untuk parkirnya enak dan luas. Setelah deal bahwa kami akan menempati penginapan ini dengan harga Rp 135.000/orang, kami mencoba untuk menyusuri pantai Sawarna, mungkin namanya Pantai Pasir Putih Ciantir kali yah, lupa saya juga. Agak sableng emang siang-siang tengah hari jam 11-an malah ke pantai, tujuannya sih cuman buat survey spot-spot lokasi bagus yang enak buat foto aja sekaligus menghilangkan rasa penasaran karena katanya pantai Sawarna yang masih bersih dan indah dipandang. Dari penginapan dan perkampungan/homestay yang ada di desa Sawarna tidak terlalu jauh sebenernya, yah mungkin (mungkin loh yah) sekitar 500 meter lah, tapi kami tetap menuju kesana menggunakan motor hahahaha.

Pertama masuk areal pantai ada Gapura yang terbuat dari bambu dan jalan setapak yang sudah berupa conblock, kemudian jalan bercabang jika ke kanan menuju Pantai Pasir Putih Ciantir kalau ke kiri menuju Tanjung Layar, kami coba ke arah Tanjung Layar karena kalau ke pantai ditengah hari bolong begitu gak asoy euy hehehe :mrgreen: .Namun kami tidak sampai ke Tanjung Layarnya karena biar rasa penasaran akan eksotisme (tsaaahhh eksotisme bahasanye lebay dikit hihihihihi) Tanjung Layar biarlah memuncak pada sore harinya ketika sunset tiba. Akhirnya kami berhenti pada satu spot dimana pantainya sudah berupa karang-karang dan posisi kami kira-kira berada diantara Pantai Pasir Putih Ciantir dan Tanjung Layar, kebetulan spotnya cukup bagus dan adem karena ada pepohonan ribun, cocok lah untuk sejenak melepas lelah, jadi kami berhenti sembari beristirahat dan berfoto ala kadarnya. Sembari duduk istirahat saya terkesan dengan pesonanya, Subhanallah Maha Suci Allah dengan segala ciptaanNya, saya pun memandang indah pesisir pantai di Sawarna ini sebelah kanan hingga pantai yang dibatasi bukit serta ombak yang cukup besar namun indah memang memancarkan pesona tersendiri, teringat akan dialog di film 5cm! “Dunia ini sangat indah Tuhan, bantu kami menjaganya”.

and here we are!

and here we are!

hey you!

hey you!

Sawarna

Setelah puas menikmati panorama sekitaran gugusan pantai dan jernihnya air laut, kami beranjak untuk kembali menuju penginapan, karena perut sudah mulai terada lapar, harap maklum karena kami menempuh perjalanan cukup jauh yang Continue Reading »


Saya saat melewati Jembatan Gantung Sawarna

melewati Jembatan Gantung Sawarna

Dan akhirnya tibalah giliran saya untuk melewati jembatan gantung tersebut setelah bro Aan, dengan kaki masih gemetar, namun pandangan fokus dan konsentrasi untuk mengendalikan motor, saya menunggu jembatan tersebut benar-benar diam kemyudian barulah saya melintas, sensasinya uwooowww,, deg deg serrrr pas di tengah tengah, agak bergoyang bahkan saya sempet oleh ketika sudah mau hampir ujung dan karena takut saya menambah tarikan gas agar lebih cepet sampai, hahaha, padahal seharusnya saya tetap tenang hingga ujung jembatan. Ketika sudah tiba saya langsung minggir dan turun dari motor lalu duduk, bro Mapud yang dibelakang saya melaju cukup mulus, ketika ditanya saya hanya bilang “bro rehat bentar bro, dengkul gue gemeteran bro” hahahaha.

memperhatikan cara warga menyebrang

memperhatikan cara warga menyebrang

Saking penasarannya saya akan kehebatan warga sekitar dalam melewati jembatan tersebut, kami mencoba observasi bagaimana para warga dalam melewati jembatan tersebut dengan motornya, bahkan ada anak kecil yang mengendarai  motor matik dengan entengnya sedikit ngebut, sampai  ada yang dengan satu tangan pula! Continue Reading »


Ketika melihat kerumunan parkiran mobil dan keramaian orang yang menandakan bahwa kami sudah sampai di Desa Sawarna, perasaan senang tersebut sekejap saya redam, sebab kami masih harus melewati rintangan berupa jembatan gantung yang merupakan satu-satunya jalan masuk menuju objek wisata Pantai Sawarna.

Jembatan Gantung ini jalan satu-satunya menuju pantai Sawarna

Seketika perasaan saya berubah menjadi sedikit tegang karena jujur saja agak takut melewati jembatan gantung tersebut dengan motor, apalagi baca-baca ride report di forum-forum bikers goyangan jembatan Sawarna ini aduhai goyangannya, hehehe. Saya pun mulai berfikir dan memaksa otak saya bekerja lagi untuk mengingat bagian bagian tips dan trik para bikers ketika melewati jembatan gantung di Sawarna ini, baiklah saya siap!.

Namun rasanya kami belum siap, sempet terjadi saling tunjuk diantara kami, hahahaha, dan akhirnya sesuai urutan motor yang sampai pada saat itu bro Bayu, bro Aan, saya kemudian bro Mapud. Bro Bayu berjalan melewati jembatan dengan mulus namun Tiger Revo+Box Maxia52 cukup membuat jembatan gantung ini bergoyang, eh lah dilalah belum selesai goyangan di jembatan gantungnya berhenti tetiba warga yang menjaga jembatan itu menyuruh bro Aan maju, ketika bro Aan maju dan dalam kondisi jembatan yang masih goyang, saya menerawang Continue Reading »