#CeritaTripUjungKulon: Versi Video Hasil SJ4000

Posted on Updated on


Kalau kemarin di link ini #CeritaTripUjungKulon berupa narasi dan foto-foto aja dan berhubung banyak yang menanyakan hasil dari si SJCam #SJ4000 bagaimana, sekedar video sederhana yang hanya dibuat menggunakan aplikasi Movie Maker saja dan beberapa goyang-goyang hasilnya karena menggunakan monopod ala kadarnya :mrgreen: dan dadakan, tapi overall dengan harga kisaran 1,2-1,4 juta yah bisa dibilang si Sj4000 ini cukup oke lah baik dari segi foto maupun video, tinggal bagaimana kita mengatur settingannya saja, saya kelupaan setting dan menggunakan settingan auto serta mode gambar normal.

Berikut video #TripUjungKulon kemarin

 

#CeritaTripUjungKulon: Pesona Pasir Putih Pulau Peucang dan Kawanan Rusa Yang Ramah di Pulau Handeleum

Posted on Updated on


Peucang bro!
Peucang bro!

Taman Nasional Ujung Kulon terletak di bagian paling barat Pulau Jawa, Indonesia. Kawasan Taman nasional ini juga memasukan wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil disekitarnya seperti Pulau Handeuleum danPulau Peucang. Taman ini mempunyai luas sekitar 122.956 Ha; (443 km² di antaranya adalah laut), yang dimulai dari tanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudera Hindia. Taman Nasional ini menjadi Taman Nasional pertama yang diresmikan di Indonesia, dan juga sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat luas. Sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini. Izin untuk masuk ke Taman Nasional ini dapat diperoleh di Kantor Pusat Taman Nasional di Kota Labuan atau Tamanjaya. Penginapan dapat diperoleh di Pulau Handeuleum dan Peucang.Taman Nasional Ujung Kulon bersama Cagar Alam Krakatau merupakan asset nasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis. (Wikipedia)

Sudah Piknik kah kamu?

Ide trip ini tercetus dari si racap gegara denger yang jual “..bacang, bacang, bacang..” di patas sampai akhirnya nyerempet nyebut Peucang :mrgreen: . Kali ini kita ikut opentrip gabungan dengan Trip Organizer namanya DKK Travel (recomended nih gan :D ), yang buka paket trip ke #UjungKulon. Tanya sana sini ke teman sampai ribet soal nyamuk malaria dan pencegahannya sampe kudu nanya ke apotik dan toko obat buat nanya  dan beli obat malaria beserta cara penggunaannya sampe efeknya si Reshochin itu tuh akhirnya kelar juga. Kebanyakan paket OpenTrip ini hampir sama sih, berangkat menggunakan bus dari Jakarta sampai Desa Sumur Ujung Kulon, tempat penyebrangan bagi para pejalan yang ingin hoping island ke beberapa pulau sekitar. Berapa lama perjalanan ke Desa Sumur? sekitar 5-6 jam melalui jalur Pandeglang, kami berangkat dari Jakarta sekitar jam 10 malam dan tiba di Desa Sumur sekitar pukul 03. 40 pagi. Jadi istirahat malamnya ya di bus itu tadi (kalau bisa). Kondisi jalanan gimana? mulai dari Jakarta sampai Cibaliung, Pandeglang aman bro, selebihnya ya lumayan banyak lobang jalan kanan kiri yang pastinya kalau kita tidur di bus pasti terbangun karena berasa ada goncangan.

Jam 4 pagi kami tiba di Desa Sumur dan langsung istirahat di rumah milik warga didaerah tersebut, ada yang melanjutkan tidurnya , ada yang ngobrol, ada yang beberes, ada  yang menunggu waktu subuh tiba dan ada juga yang ngubek menu nasi uduk pake telor disitu, iya itu saya , enak kok nasi uduknya :mrgreen . Sekitar Jam 6 kurang kita sudah harus berada di pinggir pantai Desa Sumur dan dijemput pakai perahu. Loh kok dijemput pakai perahu sampan? kapalnya dimana? kapalnya ada di agak tengah sana ternyata, karena gak ada dermaga jadi untuk ke kapalnya kita harus naik sampan dulu.

Naik sampan dulu buat ke kapalnya broh :)
Naik sampan dulu buat ke kapalnya broh :) #SJ4000
Hello Sunrise, dari desa Sumur, Ujung Kulon
Hello Sunrise, dari Desa Sumur, Ujung Kulon #SJ4000

Setelah tiba di kapal, mari menikmati perjalanan laut, tujuan pertama Pulau Peucang, katanya sih pulaunya keren, liat dari hasil foto beberapa teman juga bagus viewnya jadi makin penasaran, sayangnya rasa penasaran gak sebesar rasa bete nunggu di kapal karena kelamaan jalannya, buat ngatasin bete mulai becanda, ngobrol, ngemil, foto-foto sampai tidur pun dilakonin, sampai segala insiden topi  yang dipake si racap terbang ke laut, untung bukan racapnya yang ke laut :p #peacebro , dan disaat udah mulai muak karena gak sampai-sampai dan ingin rasanya nyemplung ke laut saja, terlihat pulau dengan hamparan pasir putih yang cukup sedap dipandang mata, hell yeah! Pulau Peucang akhirnya! kami tiba setelah kurang lebih 3 jam mengarungi lautan dengan ombak yang agak lumayan.

Wefie di Kapal sebelom berangkat #SJ4000
Wefie di Kapal sebelom berangkat #SJ4000
Pulau Peucang, Ujung Kulon
Pulau Peucang, Ujung Kulon

di Pulau Peucang ini kita langsung main main di pantainya, foto-foto dan menikmati pesona pasir putih di Pulau Peucang.

Setelah puas mainan pasir di pantai dan memang rasanya kuraaang puas main di pantainya, karena enak banget disini, pasirnya empuk dan putih, bikin mau tiduran ala syahroni sambil berkata I feel free gitu lah. Agenda selanjutnya tracking ke Karang Copong, bukit yang ada dibagian belakang/barat pulau Peucang ini cocok banget buat liat sunset sebenernya, tapi harus jalan menembus hutan tropis gitu, hmmm nggak deh ya daripada liat liatan  sama dedemit-dedemit pohon yang aneh itu, syit lah.

Trekking lewat hutan buat ke KarangCopong
Trekking lewat hutan buat ke KarangCopong, WOW nemu Rusa disini
Karang Copong, Langsung mengarah ke Samudera Hindia
Karang Copong, Langsung mengarah ke Samudera Hindia. (Foto: DKK Travel, Indra)

Belom ilang pegel-pegel sehabis trekking ke Karang Copong tadi, kita lanjut ke Pulau Cidaon, disini katanya aneka satwa liar sering cari makan di padang penggembalaan. Lebih banyak sering nongol kawanan banteng disini, serasa di belahan dunia lain, suara burung-burung langka ikut meramaikan suasana siang itu.

Kawanan Banteng sedang cari makan
Kawanan Banteng sedang cari makan
Pohonnya unik
Pohonnya unik

Sehabis menikmati panorama Cidaon, kita akhirnya nyemplung, akhirnyaa, spot snorkeling ada di dekat Cidaon, disini lumayan banyak aneka ragam ikannya, bahkan banyak spot ikan nemo, katanya sih ada 8 spot nemo disini, kalau saya cuman nemu 3, tapi disini banyak ubur-ubur kecil/ubur-ubur api yang sering nyengat, lumayan juga rasanya macem dicubit-cubit kecil, pedih-pedih enak lah. Kelupaan foto-foto di spot ini, maklum terlalu menikmati para ikan-ikan dibawah sana dan males balik ke kapal lagi buat ambil kamera. Setelah dirasa cukup dan hari mulai sore kita beranjak ke Pulau Handeleum untuk beristirahat disana.

Kawanan Rusa yang ramah di Handeleum
Kawanan Rusa yang ramah di Handeleum
Wefie di Plang Pulau Handeleum
Wefie di Plang Pulau Handeleum

Selepas menginap dari Handeleum, setelah menyelesaikan sarapan kita cabut, kegiatan pertama diawali main kano di Cigenter, Cigenter ini muara sungai, letaknya ada di belakang pulau Handeleum, lumayan lah ya ngayuh ngayuh kano serasa di Amazon gitulah :mrgreen: .

Berkano di Cigenter!
Berkano di Cigenter!
Serasa menyusuri sungai amazon, katanya.
Serasa menyusuri sungai amazon, katanya.

Selepas dari kegiatan berkano di Cigenter kita menuju spot snorkeling di pulau Badul, pulau kecil yang juga memiliki pasir putih namun banyak karang yang bagus dan ikan yang lumayan cakep di sekitarnya. Lanjut dari Pulau Badul menuju spot berikutnya yaitu pulau Oar, pulau cakep juga yang berpasir putih di dekat dari Desa Sumur ternyata dan juga sebelahan sama Pulau Umang yang katanya punya resort mahal itu loh :D .

#UjungKulonTrip
Marii nyemplung!
#UjungKulonTrip
Aslinya jauh lebih cakep, kameranya asal njepret aja sih ini hehehe. #SJ4000
#UjungKulonTrip
Spot di Pulau Badul
#UjungKulonTrip
Test Cam si #SJ4000

 

Lumayan bagus ya hasil si #SJ4000 , ini set nya auto
Hai sayang, Lumayan bagus ya hasil si #SJ4000  biar kata setnya auto :D
wefie maning di laut pakai #SJ4000
wefie maning di laut pakai #SJ4000

Sayangnya waktu spot di pulau Oar ini mbaknya cukup kenceng, bahkan gak pas buat snorkelan, bisa kebawa arus yang ada, saya sempat turun sebentar buat ritual kebelet pipis disini, bukan niatan snorkel tapi asli kebelet yaudah turun dah, ngiterin kapalnya dan engap euy lewatin arus ombaknya. Jadinya kita menikmati viewnya aja dan gak lama dateng 3 kapal rombongan lain dan mereka tetep snorkeling loh, wihh nyalinya gede juga :mrgreen: . Akhirnya kita mutusin buat udahan saja dan balik ke Desa Sumur buat bebersih dan balik pulang menuju Jakarta. Bye-bye Ujung Kulon, kalau ada waktu dan kesempatan mau banget deh balik lagi kesini tapi nginepnya di Peucang ahh, biar bisa lebih lama gegoleran di pantainya, hahaha.

Testimoni buat Trip Organizer kita yaitu DKK Travel, duet leadernya si Reno dan Indra asik dan oke kok, walaupun baru kenal tapi yah kalau trip seperti ini biasanya enaknya sih kudu akrab, soal jadwal ittenerary, mereka mengatur jadwal dengan teratur banget, selain itu gak segan berbagi pengalaman serta serba-serbi soal laut, teknik freedive dan peralatan snorkel secara cuma-cuma ke para teman-teman yang ikutan, selain itu foto-foto mereka juga lumayan bagus kok. Apapun itu, mau sharecost, jalan sendiri atau mau ikut opentrip, yah balik lagi ke kitanya kok bagaimana maunya, gak usah banget mau maksain idealis lha ya, semua cara punya kelebihannya masing-masing. Kesan yang didapat balik dari #TripUjungKulon ini kita jadi punya tambahan referensi tempat, teman serta trip organizer lain kan akhirnya. Gracias!

see you next time
see you next time
senjata baru #SJ4000
senjata baru #SJ4000

Singkong Sambel Roa, Cemilan Pas Selagi Kongkow di Kopi Oey Sabang

Posted on


Lembaran Menu di Kopi Oey Sabang, Unik.
Lembaran Menu di Kopi Oey Sabang, Unik.

Memasuki jam pulang kantor kebetulan si bos mengajak kami seruangan ini untuk kongkow sejenak ngobrol ringan melepas penat sembari menunggu senja (hai Senja :mrgreen: ). Tujuannya sih katanya agar tetap solid dan tetap akrab sehingga bisa mempermudah pekerjaan. Tempat di sekitaran Jl. Sabang pun jadi pilihan, kebetulan doi suka ngopi, maka dipilihlah kedai Kopi Oey empunya pak Bondan ‘maknyuss’ Winarno Jl. Sabang karena dekat dengan kantor.

Interior Kopi Oey di Jl. Sabang ini asik, ala ala vintage gitu lah, sehingga saya menangkap kesan teduh ala rumah jaman dahulu kala. Meja dan kursinya pun disesuaikan, meja bulat dari batu marmer pilihan dan kursi kayu serta lampu lampu yang tergantung jadi suasana khas kedai ini. Bagi saya ini bukan sekali saya pernah ketempat ini, sebelumnya sudah pernah.

Ini nih Singkong Sambal Roa yang jadi favorit saya
Ini nih Singkong Sambal Roa yang jadi favorit saya

Mengambil tempat di lantai 2 agar bisa sembari mengepulkan asap nikotin, perbincangan mengular bebas, seolah tak ada jarak antara pimpinan dan anak buah walaupun terkadang masih penyebutan normal. Tak lupa sajian yang menjadi favorit saya dan juga si bos, yaitu Singkong Sambal Roa nan hangat dan gurih sebanyak 2 porsi juga Teh Tjap Salatiga sebagai pelengkap hangatnya sore itu. Langsung saja mengambil singkong goreng dan mencocolnya dengan sambal roa, nyaammmm singkong gorengnya enak nan lembut tidak terlalu keras terkadang ada sedikit bagian yang agak padat berpadu dengan pedas gurih dari sambal khas ikan roa dari manado ini. Satu cocolan tak cukup, tambah cocolan berikutnya makin lama dicocol kok makin uenaak :mrgreen: .

Akkh, rupanya memang benar adanya kalau Singkong Sambal Roa ini memang cemilan paling pas di Kopi Oey. Dua kali ketempat ini, dua kali pula sajian khas tersebut selalu saya pesan untuk menemani bincang-bincang khas kami.

 

This slideshow requires JavaScript.

 

#KulinerBakso: Bakso Cak Su Kumis di Rawamangun, Boleh Lah

Posted on


Warung Bakso Bakwan Malang Cak Su Kumis di Rawamangun
Warung Bakso Bakwan Malang Cak Su Kumis di Rawamangun

Sebagai penikmat bakso, mulai dari bakso beneran atau bakso-baksoan rasanya agak bosen dengan bakso yang gitu-gitu aja. Yang gitu-gitu aja bakso apaan bro? ya bakso yang itulah, ngerti nggak? yaudahlah pokoknya itulah :mrgreen: au apaan. Sudah pernah dengar soal bakso malang, sepertinya ada deh di sekitaran Jakarta ada deh bakso malang yang enak. Cari-cari referensi nemu 2 tempat, yaitu bakso Cak Man Kota sama Bakso Cak Su Kumis, oke mari bandingkan, pertimbangannya ialah pertama harga yang kedua tempat, kalau Bakso Cak Man saya sudah pernah tau karena beberapa kali liat outletnya di Mall, ahh..terasa kurang natural hahaha. Yowis, Bakso Cak Su Kumis di Rawamangun jadi pilihan.

Ini yang kedua kalinya mencicipi Bakso Bakwan Malang Cak Su Kumis (biasa disingkat BMCS-K), waktu pertama kalinya nyicip karena emang kepingin bakso Malang pas balik kerja berdua barengan si racap, malah pake nyasar pertama kali kesini. Yang kedua kalinya gak nyasar dong kan udah hafal. Kunjungan kedua karena pengen dapetin impression (woelah kayak testride motor aje) yang sama kayak waktu pertama kesini. Masih dengan sistem antri yang gak berubah, ya kita kudu mengantri mungkin sampai agak keluar warungnya karena ramai pengunjung dan harus menunggu tempat yang kosong biar bisa duduk dan makan. Jam-jam sore ketika kami datang agak lumayan antriannya. Menu yang disajikan berupa prasmanan , pengunjung bisa mengambil sendiri jenis bakso dan bakwan malang yang ada di meja menu setelah antrian, ada kekian goreng oreng yang enak disantap bersama kuah bakso ataupun sebagai cemilan dicocol saos, selain itu ada somay goreng maupun somay basah, tahu coklat atau putih dan tentunya bakso, baksonya ada 2 jenis bakso halus dan bakso urat. Sambil memilih menu kita bisa nyicipin aroma kuah bakso yang mengepul dari panci, enak loh cobain deh sensasinya hahaha.

Ngantrinya sampe ke luar warung
Ngantrinya sampe ke luar warung
Menunya, ngambil sendiri
Menunya, ngambil sendiri

Berhubung tempatnya terbatas, segera cari tempat kosong untuk duduk dan pesen minum, disitu ada es teler dan es campur juga yang sayangnya belum dicicipin karena selalu habis. Makan disini kita gak bisa milih meja sendiri, kalo berdua bareng pacar sih yaa harus rela berbagi, maksudnya berbagi meja :mrgreen: . Gak perlu lama lama, cicipin kuah pertama tanpa dikasih saos dan kecap, wahh seger kuah kaldunya, tapi terasa ada bumbu mecin sih. Biar lebih sip monggo tuangkan saos,sambel dan kecap dengan kombinasi yang sedap untuk disantap.

Harga rata-rata setiap menu per bijinya, lah kok biji, maksudnya per satuannya itu Rp.3000,- biasanya saya sih menuangkan 5 jenis terdiri dari 2 bakso 2 kekian goreng dan 1 somay basah. Jadi hitung saja, belum termasuk minumnya yah. Untuk masalah parkir kendaraan, disini aman kok parkirnya dijagain dan diatur, jadi kalau bawa mobil pribadi atau motor sih oke aja karena banyak juga yang bawa mobil pribadi. Warung bakso ini lokasi tepatnya di Rawamangun Muka Barat No. 14 Jakarta Timur, gampangnya deket kampus UNJ dan belakangnya lapangan golf. Buat yang kangen makan bakso malang yang khas, Bakso Bakwan Malang Cak Su ini bisa jadi pilihan. Atau barangkali punya referensi tempat bakso yang sedap dan asyik? monggo di share.

Lupa foto yang masih beningnya :D. Pokoknya mah gurih bin seger
Lupa foto yang masih beningnya :D. Pokoknya mah gurih bin seger

#CeritaTripPahawang: Mampir ke Toko Yen Yen

Posted on


Tampak Depan Toko Yen Yen Bandar Lampung
Tampak Depan Toko Yen Yen Bandar Lampung

Bagi yang pernah ke Lampung mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama Yen Yen, toko yang menjual oleh-oleh panganan khas Lampung yang terletak di Bandar Lampung ini. Kalau saya sih beberapa kali denger, eh bukan denger deng hanya lihat di beberapa ittenary trip para traveller yang ngetrip ke dserah Lampung ya pas pulangnya kebanyakan memasukan Yen Yen di dalam ittenary mereka. Nah sepulang dari Pahawang memang Yen Yen ini masuk dalam ittenary trip kami, maka jadilah kami mampir.

Di Yen Yen ini banyak macam jenis oleh-oleh khas lampung, ada keripik pisang mulai dari rasa original, coklat, keju sampai rasa rasa yang dulu pernah ada juga ada kayaknya #eaaaa. Saya hanya membeli sedikit keripik pisang Yen Yen rasa original dan keju serta kerupuk ikan ala ala Palembang gitu lah, simpel saja yang penting oleh-olehnya masuk ke dalam tas, soalnya males rasanya pulang ngetrip tapi nenteng oleh-oleh :mrgreen:.

Sepertinya Yen Yen ini memang jadi tujuan para wisatawan atau bagi yang bepergian dari Lampung untuk mampir kesini, lumayan ramai  pengunjungnya bahkan pembayaran secara cash dan menggunakan kartu debit sama panjangnya. Mengenai harga oleh-olehnya ya relatif lah ya, banyak juga yang membeli sampai beberapa kardus besar, mungkin dia reseller bisa jadi. Selesai membayar di kasir saya melihat-lihat tokonya, ternyata ada semacam half of fame dibagian depan toko, isinya foto-foto artis/publik figur yang pernah belanja di Yen Yen, tak lama mata saya menangkap sosok yang tak asing di belantika sepakbola nasional yaitu Bambang Pamungkas, rupanya pernah juga berbelanja disini.

Kalao kata mbaknya, kalau ke Lampung belum lengkap kalau tidak mampir dan belanja oleh-oleh ke toko Yen Yen.

 

#CeritaTripPahawang: Misteri Ketukan dan Senandung Subuh di Pahawang

Posted on Updated on


Pahawang Besar

Malam baru beranjak naik, kalau dilihat jam masih sekitar jam 9 malam dan kami baru saja menyelesaikan beberapa santapan ikan bakar yang disediakan dalam paket trip kali ini. “bro, masih ada 2 kilo ikan lagi nih, tanggung jawab ya” begitu kata salah satu leader trip kami, gue langsung nyerah, ogah dah cukup sudah begah. Bersama dengan beberapa kawan akhirnya kami balik ke rumah tempat kami menginap. Rupanya sudah ada juga beberapa kawan lain yang ambil posisi pules alias tidur, wah yasudah gue juga ikutan, cari bantal yang enak dan tidur, bukan di kamar tapi di depan, area ruang tengah, yang di kamar biarlah para wanita itu. Sekitar kurang dari jam 11 malam gue sudah pules.

“…tuk..tuk…”

“…tuk…tuk…”

“..tuk…tuk…”

entah masih dalam keadaan tertidur namun tidak terlalu ngeh sambil bertanya-tanya ini suara apa, begitu ngeh baru gue agak sedikit sadar namun masih dalam keadaan mata terpejam rapet, ini seperti suara ketukan di kaca jendela belakang gue, ketukan masih terus, hitungannya seinget gue ada 3x kali ketukan, sekilas terbayang dalam hati “wahh….jail nih” , mau melek buat bangun tapi males karena suasanya bener-bener sunyi, kalo gue bangun dan gue nengok yakin lah itu maen cilukba entah bisa jadi gue yang kaget atau ‘doi’ yang kaget :mrgreen: . Setelah ketukan ke 3 barulah terdengar suara dari mesjid yang menandakan akan masuk waktu Subuh, alhamdulillah, gue belum melek tapi suara dari surau yang memecah keheningan pagi itu sangat indah dan enak untuk didengar, sesaat gue langsung menyadari kalo yang sedang dilantunkan ialah kalam surat Al-Mulk, sambil mengikuti lantunan bacaan dari suara tersebut gue mulai melek dan ikut meresapi subuh yang hening dan gelap di Pulau Pahawang. Maknyuss, rasanya adem tenan, kebetulan kalam Al-Mulk ini salah satu surat favorit gue. Ketika surat Al-Mulk selesai dibacakan tak lama azan berkumandang, gue pun langsung bergegas membangunkan kawan di sebelah agar ikut solat subuh berjamaah di Pulau ini, nikmat rasanya.

Ternyata disebuah tempat nun jauh dari sinyal 2G di Lampung Selatan, bersyukur masih ada yang melantunkan kalam Al-Mulk sebelum Subuh

Lantas, siapa yang mengetuk kaca jendela belakang gue tadi? mungkin mau ngebangunin subuh kali yah.

 

#CeritaTripPahawang: Perjalanan Panjang Mengesankan di Pahawang

Posted on Updated on


(Foto by: Travollution)
(Foto by: Travollution)

Libur t’lah tiba!.

Rencana ngetrip ke tempat yang agak mulai happening di kalangan para traveller jadi tujuan, ya Pulau Pahawang. Pahawang ini terletak di pesisir Lampung Selatan Kecamatan Punduh Pidada (menurut ponsel dan peta), gak usah pake koordinat yak, hehehe.  Trip ini berawal dari si kesayangan yang  memasukan Pahawang jadi salah satu tujuan tripnya di 2014 ini dan kita nemu Travollution yang ngadain opentrip ke Pahawang 25-27 April kemarin. Gak cuman berdua, kita juga ngajak beberapa teman. Untuk Opentrip ini harga yang termasuk relatif ya untuk ukuran opentrip yaitu 450 ribu diluar biaya snorkel yang nambah 80 ribu untuk 2 hari dan lumayan karna alat snorkelnya masih bagus,  yaa Amscud standar sih tapi lumayan kan, selain itu Lifevestnya juga masih bagus tebel dan nyaman.

Gue yang pertama kalinya bakalan ngetrip main main air nyebur di laut ini lumayan agak bingung mau bawa berapa potong pakaian, maklum baru pertama kali, yang pada akhirnya gw kelebihan pakaian 1 pcs kaos dan 2 pcs celana pendek. hahaha . Jumat sore (25 April)  kita berlima sudah janjian ngumpul di Slipi Jaya, namun baru bisa jalan jam 8 malam karena teman kita dari Ciawi baru datang, alhasil 3 wanita ini yang dari tadi ngedumel yaaa you know lah yaa…kalo gue yaa diem aja kalah suara broh, hahaha. Beruntung  gak lama kita kumpul datang bus Arimbi yang ke Merak. Sampai di Merak lumayan banyak juga yang mau nge-trip, ada yang ke Krakatau, Kiluan, bahkan Pahawang juga. Gue lupa jam berapa kita masuk di kapal ferry yang jelas, kita berlima langsung ambil ruangan executive, ruangan ber-ac dengan deretan kursi sofa, lumayan bisa tidur. Tips, manfaatkan waktu perjalanan selama dari Merak menuju Bakauheuni untuk tidur, tapi hati-hati ya jaga selalu barang bawaan karena gue melihat gerak-gerik mencurigakan beberapa orang petugas kebersihan di kapal tersebut yang kata para traveller sih mereka kadang ngincer lengahnya saat kita tertidur untuk ngambil barang.

Dermaga Ketapang pagi itu
Dermaga Ketapang pagi itu
Tuh Bening kan lautnya
Tuh Bening kan lautnya

Lampung, kami sampai!

Tiba di Merak jam 03.40 pagi, sedikit di brief dan absen ulang oleh si Hafiz yang jadi kepala suku :mrgreen: nanti selanjutnya kita akan menjuju ke Dermaga Ketapang, katanya perjalanan lumayan lama sekitar 3 jam dari pelabuhan. Kita diangkut pakai minibus Trans Lampung jurusan Rajabasa, lumayan lah, langsung ambil posisi paling belakang dan tidur lagi hehehe. Sampai di Dermaga Ketapang sekitar jam 7 masih pagi tapi cuaca mantap sekali, terang benderang dan terik. Karena orangnya banyak sekitar 25 orang maka rombongan dibagi 2 kapal, kita berlima udah pasti satu kapal dan juga kita milih barengan dengan 3 teman baru dari Bandung yang baru aja kenalan semalem di Merak. Sepanjang perjalanan biar kata cuaca terang dan panas tapi bagi gue sih tetap teduh, ada kesayangan disamping yang tangannya selalu gue genggam #ahay.

Spot pertama, Pulau Tegal.

snorkel di Pulau Tegal. (Foto by: Travollution)
snorkel di Pulau Tegal. (Foto by: Travollution)

Kapal kecil membawa kami mengarungi laut dengan gugusan pulau-pulau yang membentang, indah…birunya langit berpadu dengan biru-hijau tosca air laut serta bukit-bukit yang ada digugusan pulau seolah semuanya menyatu. Terlihat tenang, segala aktivitas para penduduk/nelayan pun hanya sedikit terlihat, hanya deru mesin kapal yang sedikit memekakkan telinga kami kala itu Read the rest of this entry »