snorkeling

#CeritaTripUjungKulon: Pesona Pasir Putih Pulau Peucang dan Kawanan Rusa Yang Ramah di Pulau Handeleum

Posted on Updated on


Peucang bro!
Peucang bro!

Taman Nasional Ujung Kulon terletak di bagian paling barat Pulau Jawa, Indonesia. Kawasan Taman nasional ini juga memasukan wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil disekitarnya seperti Pulau Handeuleum danPulau Peucang. Taman ini mempunyai luas sekitar 122.956 Ha; (443 km² di antaranya adalah laut), yang dimulai dari tanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudera Hindia. Taman Nasional ini menjadi Taman Nasional pertama yang diresmikan di Indonesia, dan juga sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat luas. Sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini. Izin untuk masuk ke Taman Nasional ini dapat diperoleh di Kantor Pusat Taman Nasional di Kota Labuan atau Tamanjaya. Penginapan dapat diperoleh di Pulau Handeuleum dan Peucang.Taman Nasional Ujung Kulon bersama Cagar Alam Krakatau merupakan asset nasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis. (Wikipedia)

Sudah Piknik kah kamu?

Ide trip ini tercetus dari si racap gegara denger yang jual “..bacang, bacang, bacang..” di patas sampai akhirnya nyerempet nyebut Peucang :mrgreen: . Kali ini kita ikut opentrip gabungan dengan Trip Organizer namanya DKK Travel (recomended nih gan 😀 ), yang buka paket trip ke #UjungKulon. Tanya sana sini ke teman sampai ribet soal nyamuk malaria dan pencegahannya sampe kudu nanya ke apotik dan toko obat buat nanya  dan beli obat malaria beserta cara penggunaannya sampe efeknya si Reshochin itu tuh akhirnya kelar juga. Kebanyakan paket OpenTrip ini hampir sama sih, berangkat menggunakan bus dari Jakarta sampai Desa Sumur Ujung Kulon, tempat penyebrangan bagi para pejalan yang ingin hoping island ke beberapa pulau sekitar. Berapa lama perjalanan ke Desa Sumur? sekitar 5-6 jam melalui jalur Pandeglang, kami berangkat dari Jakarta sekitar jam 10 malam dan tiba di Desa Sumur sekitar pukul 03. 40 pagi. Jadi istirahat malamnya ya di bus itu tadi (kalau bisa). Kondisi jalanan gimana? mulai dari Jakarta sampai Cibaliung, Pandeglang aman bro, selebihnya ya lumayan banyak lobang jalan kanan kiri yang pastinya kalau kita tidur di bus pasti terbangun karena berasa ada goncangan.

Jam 4 pagi kami tiba di Desa Sumur dan langsung istirahat di rumah milik warga didaerah tersebut, ada yang melanjutkan tidurnya , ada yang ngobrol, ada yang beberes, ada  yang menunggu waktu subuh tiba dan ada juga yang ngubek menu nasi uduk pake telor disitu, iya itu saya , enak kok nasi uduknya :mrgreen . Sekitar Jam 6 kurang kita sudah harus berada di pinggir pantai Desa Sumur dan dijemput pakai perahu. Loh kok dijemput pakai perahu sampan? kapalnya dimana? kapalnya ada di agak tengah sana ternyata, karena gak ada dermaga jadi untuk ke kapalnya kita harus naik sampan dulu.

Naik sampan dulu buat ke kapalnya broh :)
Naik sampan dulu buat ke kapalnya broh 🙂 #SJ4000
Hello Sunrise, dari desa Sumur, Ujung Kulon
Hello Sunrise, dari Desa Sumur, Ujung Kulon #SJ4000

Setelah tiba di kapal, mari menikmati perjalanan laut, tujuan pertama Pulau Peucang, katanya sih pulaunya keren, liat dari hasil foto beberapa teman juga bagus viewnya jadi makin penasaran, sayangnya rasa penasaran gak sebesar rasa bete nunggu di kapal karena kelamaan jalannya, buat ngatasin bete mulai becanda, ngobrol, ngemil, foto-foto sampai tidur pun dilakonin, sampai segala insiden topi  yang dipake si racap terbang ke laut, untung bukan racapnya yang ke laut :p #peacebro , dan disaat udah mulai muak karena gak sampai-sampai dan ingin rasanya nyemplung ke laut saja, terlihat pulau dengan hamparan pasir putih yang cukup sedap dipandang mata, hell yeah! Pulau Peucang akhirnya! kami tiba setelah kurang lebih 3 jam mengarungi lautan dengan ombak yang agak lumayan.

Wefie di Kapal sebelom berangkat #SJ4000
Wefie di Kapal sebelom berangkat #SJ4000
Pulau Peucang, Ujung Kulon
Pulau Peucang, Ujung Kulon

di Pulau Peucang ini kita langsung main main di pantainya, foto-foto dan menikmati pesona pasir putih di Pulau Peucang.

Setelah puas mainan pasir di pantai dan memang rasanya kuraaang puas main di pantainya, karena enak banget disini, pasirnya empuk dan putih, bikin mau tiduran ala syahroni sambil berkata I feel free gitu lah. Agenda selanjutnya tracking ke Karang Copong, bukit yang ada dibagian belakang/barat pulau Peucang ini cocok banget buat liat sunset sebenernya, tapi harus jalan menembus hutan tropis gitu, hmmm nggak deh ya daripada liat liatan  sama dedemit-dedemit pohon yang aneh itu, syit lah.

Trekking lewat hutan buat ke KarangCopong
Trekking lewat hutan buat ke KarangCopong, WOW nemu Rusa disini
Karang Copong, Langsung mengarah ke Samudera Hindia
Karang Copong, Langsung mengarah ke Samudera Hindia. (Foto: DKK Travel, Indra)

Belom ilang pegel-pegel sehabis trekking ke Karang Copong tadi, kita lanjut ke Pulau Cidaon, disini katanya aneka satwa liar sering cari makan di padang penggembalaan. Lebih banyak sering nongol kawanan banteng disini, serasa di belahan dunia lain, suara burung-burung langka ikut meramaikan suasana siang itu.

Kawanan Banteng sedang cari makan
Kawanan Banteng sedang cari makan
Pohonnya unik
Pohonnya unik

Sehabis menikmati panorama Cidaon, kita akhirnya nyemplung, akhirnyaa, spot snorkeling ada di dekat Cidaon, disini lumayan banyak aneka ragam ikannya, bahkan banyak spot ikan nemo, katanya sih ada 8 spot nemo disini, kalau saya cuman nemu 3, tapi disini banyak ubur-ubur kecil/ubur-ubur api yang sering nyengat, lumayan juga rasanya macem dicubit-cubit kecil, pedih-pedih enak lah. Kelupaan foto-foto di spot ini, maklum terlalu menikmati para ikan-ikan dibawah sana dan males balik ke kapal lagi buat ambil kamera. Setelah dirasa cukup dan hari mulai sore kita beranjak ke Pulau Handeleum untuk beristirahat disana.

Kawanan Rusa yang ramah di Handeleum
Kawanan Rusa yang ramah di Handeleum
Wefie di Plang Pulau Handeleum
Wefie di Plang Pulau Handeleum

Selepas menginap dari Handeleum, setelah menyelesaikan sarapan kita cabut, kegiatan pertama diawali main kano di Cigenter, Cigenter ini muara sungai, letaknya ada di belakang pulau Handeleum, lumayan lah ya ngayuh ngayuh kano serasa di Amazon gitulah :mrgreen: .

Berkano di Cigenter!
Berkano di Cigenter!
Serasa menyusuri sungai amazon, katanya.
Serasa menyusuri sungai amazon, katanya.

Selepas dari kegiatan berkano di Cigenter kita menuju spot snorkeling di pulau Badul, pulau kecil yang juga memiliki pasir putih namun banyak karang yang bagus dan ikan yang lumayan cakep di sekitarnya. Lanjut dari Pulau Badul menuju spot berikutnya yaitu pulau Oar, pulau cakep juga yang berpasir putih di dekat dari Desa Sumur ternyata dan juga sebelahan sama Pulau Umang yang katanya punya resort mahal itu loh 😀 .

#UjungKulonTrip
Marii nyemplung!
#UjungKulonTrip
Aslinya jauh lebih cakep, kameranya asal njepret aja sih ini hehehe. #SJ4000
#UjungKulonTrip
Spot di Pulau Badul
#UjungKulonTrip
Test Cam si #SJ4000

 

Lumayan bagus ya hasil si #SJ4000 , ini set nya auto
Hai sayang, Lumayan bagus ya hasil si #SJ4000  biar kata setnya auto 😀
wefie maning di laut pakai #SJ4000
wefie maning di laut pakai #SJ4000

Sayangnya waktu spot di pulau Oar ini mbaknya cukup kenceng, bahkan gak pas buat snorkelan, bisa kebawa arus yang ada, saya sempat turun sebentar buat ritual kebelet pipis disini, bukan niatan snorkel tapi asli kebelet yaudah turun dah, ngiterin kapalnya dan engap euy lewatin arus ombaknya. Jadinya kita menikmati viewnya aja dan gak lama dateng 3 kapal rombongan lain dan mereka tetep snorkeling loh, wihh nyalinya gede juga :mrgreen: . Akhirnya kita mutusin buat udahan saja dan balik ke Desa Sumur buat bebersih dan balik pulang menuju Jakarta. Bye-bye Ujung Kulon, kalau ada waktu dan kesempatan mau banget deh balik lagi kesini tapi nginepnya di Peucang ahh, biar bisa lebih lama gegoleran di pantainya, hahaha.

Testimoni buat Trip Organizer kita yaitu DKK Travel, duet leadernya si Reno dan Indra asik dan oke kok, walaupun baru kenal tapi yah kalau trip seperti ini biasanya enaknya sih kudu akrab, soal jadwal ittenerary, mereka mengatur jadwal dengan teratur banget, selain itu gak segan berbagi pengalaman serta serba-serbi soal laut, teknik freedive dan peralatan snorkel secara cuma-cuma ke para teman-teman yang ikutan, selain itu foto-foto mereka juga lumayan bagus kok. Apapun itu, mau sharecost, jalan sendiri atau mau ikut opentrip, yah balik lagi ke kitanya kok bagaimana maunya, gak usah banget mau maksain idealis lha ya, semua cara punya kelebihannya masing-masing. Kesan yang didapat balik dari #TripUjungKulon ini kita jadi punya tambahan referensi tempat, teman serta trip organizer lain kan akhirnya. Gracias!

see you next time
see you next time
senjata baru #SJ4000
senjata baru #SJ4000

#CeritaTripPahawang: Perjalanan Panjang Mengesankan di Pahawang

Posted on Updated on


(Foto by: Travollution)
(Foto by: Travollution)

Libur t’lah tiba!.

Rencana ngetrip ke tempat yang agak mulai happening di kalangan para traveller jadi tujuan, ya Pulau Pahawang. Pahawang ini terletak di pesisir Lampung Selatan Kecamatan Punduh Pidada (menurut ponsel dan peta), gak usah pake koordinat yak, hehehe.  Trip ini berawal dari si kesayangan yang  memasukan Pahawang jadi salah satu tujuan tripnya di 2014 ini dan kita nemu Travollution yang ngadain opentrip ke Pahawang 25-27 April kemarin. Gak cuman berdua, kita juga ngajak beberapa teman. Untuk Opentrip ini harga yang termasuk relatif ya untuk ukuran opentrip yaitu 450 ribu diluar biaya snorkel yang nambah 80 ribu untuk 2 hari dan lumayan karna alat snorkelnya masih bagus,  yaa Amscud standar sih tapi lumayan kan, selain itu Lifevestnya juga masih bagus tebel dan nyaman.

Gue yang pertama kalinya bakalan ngetrip main main air nyebur di laut ini lumayan agak bingung mau bawa berapa potong pakaian, maklum baru pertama kali, yang pada akhirnya gw kelebihan pakaian 1 pcs kaos dan 2 pcs celana pendek. hahaha . Jumat sore (25 April)  kita berlima sudah janjian ngumpul di Slipi Jaya, namun baru bisa jalan jam 8 malam karena teman kita dari Ciawi baru datang, alhasil 3 wanita ini yang dari tadi ngedumel yaaa you know lah yaa…kalo gue yaa diem aja kalah suara broh, hahaha. Beruntung  gak lama kita kumpul datang bus Arimbi yang ke Merak. Sampai di Merak lumayan banyak juga yang mau nge-trip, ada yang ke Krakatau, Kiluan, bahkan Pahawang juga. Gue lupa jam berapa kita masuk di kapal ferry yang jelas, kita berlima langsung ambil ruangan executive, ruangan ber-ac dengan deretan kursi sofa, lumayan bisa tidur. Tips, manfaatkan waktu perjalanan selama dari Merak menuju Bakauheuni untuk tidur, tapi hati-hati ya jaga selalu barang bawaan karena gue melihat gerak-gerik mencurigakan beberapa orang petugas kebersihan di kapal tersebut yang kata para traveller sih mereka kadang ngincer lengahnya saat kita tertidur untuk ngambil barang.

Dermaga Ketapang pagi itu
Dermaga Ketapang pagi itu
Tuh Bening kan lautnya
Tuh Bening kan lautnya

Lampung, kami sampai!

Tiba di Merak jam 03.40 pagi, sedikit di brief dan absen ulang oleh si Hafiz yang jadi kepala suku :mrgreen: nanti selanjutnya kita akan menjuju ke Dermaga Ketapang, katanya perjalanan lumayan lama sekitar 3 jam dari pelabuhan. Kita diangkut pakai minibus Trans Lampung jurusan Rajabasa, lumayan lah, langsung ambil posisi paling belakang dan tidur lagi hehehe. Sampai di Dermaga Ketapang sekitar jam 7 masih pagi tapi cuaca mantap sekali, terang benderang dan terik. Karena orangnya banyak sekitar 25 orang maka rombongan dibagi 2 kapal, kita berlima udah pasti satu kapal dan juga kita milih barengan dengan 3 teman baru dari Bandung yang baru aja kenalan semalem di Merak. Sepanjang perjalanan biar kata cuaca terang dan panas tapi bagi gue sih tetap teduh, ada kesayangan disamping yang tangannya selalu gue genggam #ahay.

Spot pertama, Pulau Tegal.

snorkel di Pulau Tegal. (Foto by: Travollution)
snorkel di Pulau Tegal. (Foto by: Travollution)

Kapal kecil membawa kami mengarungi laut dengan gugusan pulau-pulau yang membentang, indah…birunya langit berpadu dengan biru-hijau tosca air laut serta bukit-bukit yang ada digugusan pulau seolah semuanya menyatu. Terlihat tenang, segala aktivitas para penduduk/nelayan pun hanya sedikit terlihat, hanya deru mesin kapal yang sedikit memekakkan telinga kami kala itu Read the rest of this entry »