Jalan Raya

Tetap Waspada Ketika Berkendara Saat Hujan Deras

Posted on Updated on


image
Ilustrasi

Akhir-akhir ini kota Jakarta dan sekitarnya sering dilanda hujan, mulai dari intensitas ringan, sedang hingga deras, yang terkadang serug juga dibarengi oleh angin kencang. Sebagai pengguna sepeda motor tentunya ditengah kondisi cuaca seperti ini kita dituntut agar terus prima dan waspada dalam berkendara.

Kamis malam atau malam jumat (biasa disebut begitu) kemarin saya pulang dari kantor sekitar pukul 7.30 WIB, riding perjalanan pulang kala itu diiring dengan hujan deras yang cukup membuat jarak pandang menjadi terbatas. Begitu stelah melewati flyover Roxy dan menuju perempatan Grogol dalam posisi kecepatan sedang/tidak terlalu kencang sekitar 40-45km saya dikejutkan oleh insiden pengguda motor matik yang tiba tiba mengalami oleng, kemudian ban depan slip dan……..gusraaaakkk.! Ciiittttt….braaakkk!!!. Motor matik dengan pengemudi dan boncengernya itu pun jatuh kesamping kanan dan agak terseret sedikit, selang 1-2 detik kemudian pengendara motot sport 150cc dibelakangnya tak bisa mengendalikan keadaan, berupaya menghindar namun motor yang sudah mengerem hingga ban belakang ‘ngesot’ pun mengenai pengendara matik yang sudah terjatuh dan seketika motor sport tersebut jatuh dan pengendaranya lebih dahulu melompat sesaat sebelum motornya jatuh diatas aspal tepat diluar jalur busway. Ngeri.

Beruntung sekali saya tidak terlibat dalam insiden padahal kejadian jatuhnya pengendara motor matik itu tepat didepan..namun saya mengambil posisi zigzag saat berkendara dan membaca pergerakan pengendara motor matik itu (SEE) sehingga alhamdulillah selamat dan tidak terlibat insiden. Berhenti dan toleransi antar pengendara motor terlihat saya membantu membangunkan mptor matik dan kemudian membantu memapah yang jatuh agar bisa berdiri setelah itu lanjut jalan lagi.

Sampai rumah saya menganalisa kembali kejadian yang terjadi tepat didepan mata kepala saya tersebut. Kemungkinan yang saya simpulkan dalam kondisi hujan deras dan aspal yang licin motor matik tersebut slip ban depan saat mau pindah jalur melintasi garis putih putus-putus lalu kemudian pengendaranya panik menekan rem depan dan terjadilah insiden tersebut, lalu motor dibelakangnya sedang melaju untuk mendahului pun kaget dan tak sempat mengendalikan motor sehingga terlibat dalam insiden kecelakaan tersebut. Kedua motor tersebut tidak terlalu rusak parah, masih bisa nyala dan berjalan, pengendranya pun demikian, masih bisa melanjutkan perjalanan.

Bagi para pengendara motor sekoga tetap waspada terhadap kondisi jalanan, jarak dan situasi kendaraan sekitar, karena berkendara dalam kondisi hujan cukup menyulitkan, baiknya berenti berteduh sambil menunggu hujan agak reda.

Pernyataan Sikap Otoblogger Indonesia Atas Kecelakaan di Tol Jagorawi 8 September 2013

Posted on


Keselamatan berkendara, darimana dimulai? selain dari diri sendiri tentunya rasanya hampir semua setuju kalau keluarga merupakan pintu/filter pertamayang berperan dalam keselamatan berkendara.Oreangtua jelas memiliki tanggung jawab yang paling besar dalam keluarga, bagaimana mereka harus mampu mengarahkan para anak-anaknya terkait keselamatan berkendara maupun di jalan raya. Seperti slogan yang dirilis akun twitter yang berisikan kicauan tweet para penggiat safety @kopdarpengicau , yaitu Aja(r)kan selamat.  Begitu pula dengan milis Otoblogger Indonesia (OBI) yang tetap konsisten dalam penegakan aturan hukum di jalan raya dan keselamatan berkendara. dan terkait kecelakaan yang mengakibatkan tabrakan beruntun di tol Jagorawi pada tanggal 8 September 2013 kemarin hingga menyebabkan 6 orang meninggal dunia dan beberapa orang lainnya luka-luka. Semoga saja para orangtua semakin terbuka bahwa belum saatnya memberikan kunci kendaraan kepada anak dibawah umur.

PERNYATAAN SIKAP OTO BLOGGER INDONESIA

Jakarta, 9 September 2013.

Minggu (8/9), publik kembali diguncang dengan kecelakaan maut yang menewaskan enam orang di kilometer 8, jalan tol Jagorawi, Jakarta Timur, sekitar pukul 00.30 WIB. Menurut berita yang dimuat sejumlah media, kejadian tragis itu dipicu ketika sebuah mobil Mitsubishi Lancer EX yang dikemudikan oleh AQJ (13) hilang kendali. Sedan tersebut kemudian menabrak pagar pembatas jalan tol dan dua mobil (Toyota Avanza dan Daihatsu Granmax) yang datang dari arah berlawanan.

Terkait dengan kejadian tersebut, Oto Blogger Indonesia (OBI) menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Keprihatinan mendalam terhadap tragedi di jalan tol Jagorawi, semoga keluarga korban diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kejadian ini.
  2. Mendesak aparat penegak hukum menuntaskan perkara kecelakaan tersebut sesuai dengan hukum dan undang-undang yang berlaku. Hal ini tidak lepas dari salah satu fungsi hukum: memenuhi rasa keadilan dan memberikan efek jera.
  3. Menghimbau kepada masyarakat, khususnya para orang tua agar tidak memberikan izin mengendarai sepeda motor atau mobil kepada anak di bawah umur (belum memiliki SIM).

Oto Blogger Indonesia  (OBI)

Melihat Sisi Lain Dari Pemudik

Posted on Updated on


Malam tadi sepulang dari acara buka puasa bersama teman-teman kampus saya yang ingin merasakan aura mudik pun memilih pulang melewati jalur utama pemudik tepatnya melewati jalan Daan Mogot Jakarta Barat. Sepanjang perjalanan itu pula saya merasakan spirit dari para pemudik yang menggunakan motor, namun sayangnya tetap saja ada sedikit perasaan pilu di hati ini.

Pilu hati ini terasa ketika melihat bocah kecil nan lucu memeluk bantal spongebob sedang tertidur dengan bersandar sang ibunda diatas sadel jok motor, sementara sang ayah terlihat penuh tanggubg jawab berada didepannya terlihat tegar waspada dalam mengemudikan motornya. Tak ada helm yang melekat di kepala bocah kecil nan lucu itu, bahkan tudung kepala jaketnya pun tak dikenakannya, dingin? Sudah tentu namun rasanya sesekali usapan tangan sang ibunda dikepala bocah kecil itu mungkin terasa hangat. Sayangnya tetap saja ia tidur dengan diterpa angin malam dan debu jalanan.

Tak kalah pilu hati ini ketika saya melihat bayi yang masih terbalut selimut tebal sedang berada dalam dekapan sang bunda juga ikut berjuang dalam perjalanan mudiknya.

Dan hati ini kembali berucap sesal campur perih ketika melihat pemotor yang mudik dengan breket bambu dan barabg bawaan meninggi dibelakangnya beradu kencang dengan pemotor lain. Ya Tuhan. Lindungi mereka.

Seharusnya bocah kecil nan lucu tadi bisa tidur dengan lelap bersandarkan kurilsi bus/kereta sambil memeluk bantal spongebob ditambah pelukan ayah dan bundanya mungkin bisa jauh lebih hangat, bukan berada di jalanan seperti tadi.

Seharusnya bayi yang terbalut selimut tebal dalam dekapan sang bunda berada diatas kursi bus/kereta dengan udara yabg hangat. Bukan berada diatas jok motor seperti tadi.

Tapi mereka-mereka ini seolah berkata “jangan halangi kami untuk mudik. Ini cara kami.” Ya tuhan, lindungi mereka sampai mereka kembali lagi dengan selamat.

Dan memang sudah seharusnya pemerintah memfasilitasi secara cuma-cuma bagi mereka yang melakukan ritual pulang kampung setiap hari raya ini.

Saya menulis ini Senin, 5 Agustus 2013 malam hari disebuah spbu setelah melihat realita para pemudik yang menggunakan motor.

Cerita Tentang Pak Tua si Penjual Koran

Posted on Updated on


Koran, dengan si penjualnya yang kerap disebut loper koran di jaman serba digital pun masih banyak, bisa ditemui di berbagai belahan sudut kota seperti di perempatan lampu lalu lintas, pom bensin, terminal bahkan di emperan pertokoan. Saya yang sudah lama sekali tidak membaca koran yang sesungguhnya, maksudnya disini saya lebih sering membaca berita via media digital bukan koran yang dalam bentuk sesungguhnya merasa ada ‘panggilan’ agar membeli dan membaca koran.

Panggilan itu..sekitar minggu lalu ketika dalam perjalanan menuju kantor saya mengisi bensin, tak lama setelah mengisi bensin motor saya bermasalah, lampu depan jadi ala ala disko alias mati hidup mati hidup. “Wah gak beres ini sih” ujar saya dalam hati.

Akhirnya motor saya parkirkan masih di pom bensin saya coba menelpon mekanik langganan agar bisa diatasi say sendiri dengan bantuan telepon mekanik namun hari yg masih terlalu pagi bagi mekanik membuat telepon saya seakan ia-sia. “Okelah ini apanya yahh bohlamnya atau saklarnya” ujar saya. Kebetulan disamping saya ada penjual koran lengkap dengan rompi yang menandakan sebagai penjual koran dan tentengan korannya, entah kapan dia berada disamping saya, saya pun tak tahu.

Tak lama mekanik saya menelpon dan langsung menyuruh saya mengganti sikring voila troble solved!. Sembari cuci tangan dan duduk sejenak saya coba berbincang dengan si penjual koran. Sebut saja pak Tua, memang karena raut wajahnya yang menyiratkan demikian.
“Sudah 3 tahun mas saya berjualan koran..yahhh begini inilah” ujar pak Tua ketika saya tanya sudah berapa lama berjualan.
Dia bercerita sedikit tentang masa lalunya, mulai dari PHK di tempat dia bekerja hingga kehidupan yang menurutnya juga gak kunjung membaik. Tapi dia pantang menyerah, pantang baginya hanya duduk berpangku tangan mengharap belas kasihan orang.
“Jangan mengasihani saya karena saya gak bisa punya apa apa, saya akan tersinggung bahkan marah jika tau ada orang yang mengasihani saya karena itu..lebih baik beri saya pekerjaan dan akan saya kerjakan semaksimal yang saya bisa” tegasnya saat itu yang disertai dengan senyum.sebuah semangat yang patut dijadikan contoh dan sebuah sentilan bagi saya pribadi. Munkin ini yang dinamakan hikmah Ramadhan.

“Ahh pas..rasanya saya perlu membaca koran hari ini..” kata saya dalam hati seakan menegaskan saya harus membeli koran itu. Saya pun kemudian memanggil pak Tua yang sedang menjajakan korannya disekitaran pemotor dan pemobil yang antri mengisi bensin.
“Loh beli dua mas? Buat apaan dua koran dengan jenis koran yang sama” ujarnya bingung ketika saya membeli koran Harian Bola dan koran Top Skor.
“Mau ngebandingin beritanya pak” jawab saya sekenanya.
Sejujurnya saat itu saya membeli dua koran karena sedari tadi saya tidak melihat orang lain yang membeli koran di pak Tua itu. Bukan iba apalagi bermaksud riya, saya hanya coba membantu, karena saya melihat wajah yang berseri-seri dari pak Tua ketika saya memanggilnya dan membeli koran darinya. Mungkin bagi kita dua ribu rupiah biasa saja bahkan tergolong kecil tapi bagi mereka (para loper koran) hitungan koran yang terjual itulah yang menghidupi mereka. Mungkin.
Jadi gak ada salahnya bantu mereka loper koran dengan cara membeli koran yang dijajakannya. Apalagi membaca koran itu nikmat ditambah diselingi dengan biskuit dan teh panas.

image

Pertama Kalinya Mesin Overheating

Posted on Updated on


Ini kali pertama si Redzzo, Bajaj Pulsar 220 saya mengalami overheat atau panas berlebih yang dihasilkan dari kinerja mesin. Sebelumnya belum pernah mengalami gejala overheating saat macet macet ala Jakarta yang cukup jahanam atau macet-macetan di kawasan Puncak mengejar truk #eh.

Malam minggu kemarin sepulang dari tempat seorang kawan diderah Tajur, Bogor yang memang pada saat itu dilanda hujan deras saya memutuskan untuk pulang menerabas hujan, tentunya dengan mengenakan jas hujan dong. jalanan ramai lancar di kota Bogor namun hujan tetap deras, hingga pada saat memasuki wilayah Parung yang sedang ada perbaikan jalan sehingga motor harus berjalan pelan sekitar 30-40km/jam disitu pula indikator kedua dari kiri  di panel speedometer Redzzo berkedip, awalnya gak tau kenapa ini  kedip-kedip padahal saat itu masih hujan sesekali bahkan menerpa genangan air.

Indikator ke 2 dari panel menyala

Dugaan awal pertama saya ialah “waduh jangan-jangan oli nya kurang nih” dah lah jalan dulu aja sekitar 15 menitan itu indikator kedua dari kiri masih berkedip begitu masuk belokan ke arah Ciseeng saya memutuskan berhenti dahulu buat mengecek, coba hubungi kawan yang pakai pulsar dan juga rekan OBI yang domisili sama di tangerang yaitu bro Marlin bilang dengan pedenya “itu aki lu tekor bro”, ah saya gak percaya, rasanya bukan aki nih ya saya meragukan diagnosa bro Marlin yang pernah mengalami piston pecah, hehehe. Akhirnya browsing  pake handphone ke thread Pulsar Kaskus (Bapukers) dan saya menemukan jawabannya, ternyata itu indikator suhu mesin yang mengalami panas berlebih. Lah maklum saya selama ini bawa mbebeke kwek kwek supra fit, mana ada indikator suhu mesin, yang ada bablas terussss, hihihihihi.

Baiklah sembari nunggu mesin adem, kalo kata salah satu kawan di FR2 Chapter Tangerang “ngopi aja tiga gelas tapi ngopinya jangan buru-buru” hahahaha. Menunggu mesin adem ditengah guyuran hujan, sementara saya menikmati mie rebus panas dan teh tawar panas di warung yang ada di sekitar situ, hampir setengah jam saya coba cek lagi, Alhamdulillah indikator tadi sudah tidak berkedip dan selama perjalanan pulang lancar jaya.

Petugas Delivery Order (memang) Berani Mati

Posted on


Jalanan Gatot Subroto tampak ramai siang itu, saya bermaksud mengambil ke kanan untuk masuk ke terminal Cimone dan kemudian menuju Perumnas 2, hanya saja pas belok saya sudah setengah jalan tetiba dari arah berlawanan tampak sebuah motor bebek berbox dengan logo sebuah resto makanan cepat saji ngebut, hampir mengantam ban depan saya, saya berhenti, eh lah dalah si petugas delivery order resto makanan cepat saji itu pun hanya senyum sinis dan kembali meliuk-liukan motornya di tengah keramaian.

Sinting! itu yang sempat saya umpat kesal terhadap kelakuan petugas delivery order yang begitu membahayakan, dengan helm fullface seadanya tanpa dikancingkan, tanpa menggunakan gloves (sarung tangan) dan dengan cara mengemudikan motor yang bagi saya berbahaya dan membahayakan orang lain demi tercapainya orderan sajian cepat saji tersebut di tangan pelanggan.

Penampakan Petugas Delivery Order Siap antar!!! (foto hanya ilustrasi)

Dilematis memang, kita ingin agar mereka lebih berhati-hati dan tidak ngebut dijalanan atau dalam artian santun dijalanan tidak tersgesa-gesa, akan tetapi disatu sisi lainnya petugas delivery order ini juga diburu waktu agar pesanan sampai ke tangan pelanggan kurang dari waktu yang telah ditentukan, jika lewat maka akan mungkin si petugas delivery order tersebut akan kena sanksi. Lalu apakah para manajemen resto makanan cepat saji itu telah memberikan pelatihan atau pemahaman berkendara kepada para petugas delivery orderya?Apakah manajemen juga menyadari resiko para petugas dengan cara berkendara yang membahayakan itu?Jika sudah mungkin tinggal kesadaran dari pihak petugas itu sendiri mau bertindak bagaimana di jalan ketika mengantarkan pesanan. Namun jika tidak, maka manajemen menurut pemikiran saya telah mengorbankan petugas untuk “bertarung di jalanan” tanpa bekal amunisi.  Padahal demi kepuasan konsumen lah, para petugas delivery order ini memacu motornya berburu dengan waktu agar sesegera mungkin untuk tiba ditempat tujuan.

Ironi memang, dengan fakta bawha pemotor merupakan korban kecelakaan paling banyak di jalan raya terus bertambah, dan kini para petugas delivery order dengan cara berkendara yang sradak sruduk, zig-zag, memang siap berkorban demi sebuah waktu, mahal memang apa yang harus dikorbankan dan sepertinya pekerjaan tersebut dituntut untuk berani melakukan manuver di jalan raya demi memangkas waktu. Miris rasanya jika sampai saya terpaksa bilang Petugas Delivery Order (memang) berani mati.

Riding Pagi Bersama OBI

Posted on Updated on


Dari dulu sejak gabung di OBI ini saya belum pernah yang namanya riding bareng-bareng beneran dengan para OBIwan , maksudnya beneran dalam artian yah mungkin short trip/short touring gitu, tapi Minggu kemarin akhirnya kesempatan riding bareng OBIwan pun alhamdulillah terlaksana acara Sunday Riding yang digagas sejak seminggu ini dengan tujuan sarapan di Palace Hotel Cipanas, sempet bingung apakah bisa hadir karena malam sebelum berangkat ada acara ditambah jam berangkatnya yang eh bujug masih memasuki waktu dinihari,huahahaha. Belum lagi perasaan galau yang meninggi karena lokasinya tepat sekali didepan….ummm…yasudah skip lah yah. Pada dasarnya saya ingin sekali riding bareng OBIwan, nampaknya asik sekali apalagi OBIwan yang ada di Jakarta hampir semuanya ikutan,hehehehe.

“Kita kumpul jam 5 sampai jam 6 di Attawun Puncak, lewat dari itu langsung ke Palace Hotel Cipanas aja” begitu pesan Eyang Edo yang saya lihat di milis OBI, edyan..harus bangun dan berangkat jam berapa nih?!!, nggak mau mikir lama, setel alarm jam 03.10 WIB pagi dan sukses terbangun karena alarmnya ialah OST WIRO SABLENG 212 eeeaaaa…aaa..aaa..aaaaa :mrgreen: jam 03.40 Saya sudah start dari rumah menembus pekatnya pagi hari dimana orang masih terlelap, estimasi waktu yang saya tuju ialah agar bisa subuhan di SPBU Warung Jambu Bogor, karena kalo di Attawun Puncak Read the rest of this entry »