Event dan Komunitas

#KulinerMie: Travel Mie, Puncaknya Tangerang yang Nge-Hits!

Posted on Updated on


image
Travel Mie, Puncaknya Tangerang

Tangerang punya puncak?? Masa sih? Beneran bro, cobain dah kemarih. Yaa walaupun puncak secara kiasan saja karena dekorasi tempat makan sekaligus nongkrong-nongkrong ini punya suasana ala-ala camping gitu deh.

Yup, Travel Mie, kata kang Hery Aldian yang akrab dipanggil ‘Engkong’ selaku salah satu pengelola Travel Mie ini bilang kalau tempatnya sebagai Urban Camping pertama di Indonesia. Label Urban Camping memang cukup sesuai karena mendekorasi tempat dibuat menyerupai suasana camping di gunung dengan menyediakan banyak tenda (bukan tenda biru lagu Desi Ratnasari tentunya, walaupun ada tenda yang warnanya biru ye kan :mrgreen: ) dan juga tempat makan seperti nesting, menu simaksi dan setiap tenda atau meja diberi tanda Pos 1 sampai seterusnya, wuih lumayan mirip kan . Menu utama yang jadi andalan di Travel Mie tentunya ketoprak, kok? ya jelas mie lah namanya aja udah mie. Mie ini disajikan persis dengan bungkusnya seperti yang tertera pada bungkus Indomie goreng, Indomie ayam bawang, Indomie soto, Indomie bulgogi sampai menu Indomie level pedas semacam kripik maicih dan karuhun. Mie tadi bisa dipesan dengan porsi jomblo alias single atau porsi dobel, wihhh begah begah dah lu.
image

Cuman ada mie doang nih bro? Nggak juga bro, Travel Mie juga punya panganan khas lainnya seperti Nasi Liwet, Nasi Bakar, Ketan Serundeng (ini ketan serundengnya enak, tapi kurang sedikit pedes bagi saya) sampai Ketan Susu dengan segala macem kreasinya. Udah itu aja? Eits belom bro, masih ada Read the rest of this entry »

Maksimalkan Kamera Ponselmu dan Ikuti Lomba Fotoblogger 2014, Hadiahnya Lumayan Asyik Bro!

Posted on


Kalian tau OBI?

Tau nggak? hah, gak tau? ah masa sih atau kalau saya tanya tau Otoblogger Indonesia? tau dong pasti? gak tau juga? ahh payah kalian semua, bohong kalau kalian gak tau, hmmmm… atau mungkin kalian inget kalimat “Stop Pembodohan Otomotif” . Inget? Alhamduillah masih ada yang inget rupanya :mrgreen: lumayan bikin ‘ngenes’. Otoblogger Indonesia, agregator blog otmotif yang memang isinya tidak melulu otomotif, transformasi pola pikir, pendapat dan juga usia yang terus bertambah termasuk para penghuni blog didalamnya entah mengapa dalam setahun belakang ini kurang “nge-HITS”.

Nah sebagai pengingat bahwa kami yang menghuni agregator yang beralamat di http://otobloggerindonesia.wordpress.com sudah berumur 3 tahun dan masih ada….ada ada aja mungkin 😀 mengadakan lomba/kontes foto melalui kamera ponsel, Lomba Fotoblogger 2014 sebagai tetengger 3 tahun agregator Otoblogger Indonesia. Tentunya banyak diantara kalian yang ponselnya memiliki kamera bukan? sederhana saja, upload foto yang kalian abadikan di kamera ponsel sesuai dengan kategori dan tema yang sesuai ketentuan, pasti ada hal yang menarik yang ada di sekitar kalian dan sesuai dengan kategori dan tema yang diperlombakan, saya yakin itu. Oh iya, fotonya harus jujur ya benar-benar dari ponsel dan hanya boleh naik/turun contrast-brightness saja. Hadiahnya? ada Helm KBC V Euro+Pinlock, ada Ponsel LG 1 II dan Gloves Probiker, wuihh lumayan asyik kan.

Makanya Ayo, mari maksimalkan kamera ponselmu, kirim fotonya ke lombafotoblogger@gmail.com.

———————————————————–

Lomba Fotoblogger 2014, Saya dan INDONESIA
Lomba Fotoblogger 2014, Saya dan INDONESIA

LOMBA FOTOBLOGGER 2014

Sebagai Tetenger 3 Tahun Otoblogger Indonesia (OBI)

1 Maret 2011 – 1 Maret 2014

Horeeee kami masih ada……ajaaa….. 😀

TEMA : SAYA dan INDONESIA

KATEGORI:

1. SAFETY
Apa yang ada di benak sampeyan soal safety itu? Coba bidik pakai ponsel atau tabletnya mas bro 😀

2. TRANSPORTASI PUBLIK
Seperti apa sih transportasi publik dari balik lensa ponsel atau tablet sampeyan mas bro?

3. SOSIAL BUDAYA

Apa yang menarik di lingkungan sekitar sampeyan tinggal mas bro? Tolong potretin dong pakai ponsel atau tablet.

SYARAT LOMBA, SIMPLE SAJA YA..

  1. Jujur. Foto harus karya sendiri dan belum pernah memenangi lomba sejenis.
  2. Foto diharuskan menggunakan ponsel atau tablet. Tidak diperkenankan menggunakan camdig saku atau DSLR, karena itu #haram untuk lomba ini.
  3. Peserta bukan member OBI, mantan OBI, pacar, keponakan, mbah buyut, mbah canggah, udek-udek siwur, dan atau keluarganya.
  4. Tiap peserta maksimal mengirim 2 foto per kategori.
  5. Kirimkan foto dalam format asli maksimal ukuran 1 MB ke email lombafotoblogger@gmail.com.
  6. Semua foto yang dikirim akan ditampilkan di blog lombafotoblogger.wordpress.com
  7. Foto tidak boleh dimodifikasi. Kecuali gelap-terang saja (contrast – brighnest).
  8. Foto harus dapat dibaca metadatanya di software foto semacam ACDsee atau Photoshop.
  9. Foto yang ikut lomba diambil diantara tanggal 1 Januari – 1 Maret 2014.
  10. Cantumkan KATEGORI – JUDUL FOTO – LOKASI – NAMA PEMOTRET untuk nama file.
  11. Pengiriman foto dimulai pada 1 Februari – 1 Maret 2014 jam 00.00 wib.
  12. Pengumumam pemenang pada tanggal 11 Maret 2014 di blog lombafotoblogger.wordpress.com dan blog agregator OBI.

JURI:
Lourentius EP dan Aryus Soekarno
Fotografer sebuah media ternama nasional

DESAIN BANNER :

Rizal

http://about.me/dannyrizal

HADIAH:

KATEGORI 1 : Helem KBC V-Euro + Pinlock

KATEGORI 2 : Glove Pro Biker

KATEGORI 3: Ponsel pinter LG L1 II

PENYANGGAH:

  1. Keputusan juri mutlak. Tidak dapat diobrolkan, dinegosiasikan, maupun dipidanakan. Karena ini merupakan lomba demi pertemanan dan kearifan berkarya. Namun, hasil lomba dapat di-FB-kan, di-Blog-kan, di-Twit-kan, dan sejenisnya.
  2. Hadiah masing-masing kategori merupakan produk yang berdiri sendiri. Merek hadiah tersebut bukan sponsor, dan tidak mengikat panitia dan juri untuk memilih pemenang. Itu karena merek-merek tersebut dibeli menggunakan iuran member OBIwan.
  3. Bagi pemenang yang berdomisili di wilayah DKI Jakarta (Pusat, Selatan, Utara, Timur, dan Barat) hadiah mohon dapat diambil sendiri (dengan perjanjian) sekalian untuk foto-foto #selfie bersama panitia dan atau member OBI yang diberi amanah menyerahkan hadiah.
  4. Untuk pemenang di Bodetabek, luar kota, luar Jawa, hadiah akan dikirim melalui jasa pengiriman terpercaya (Pos atau JNE). Ongkos kirim ditanggung panitia. Jangan lupa, setelah hadiah diterima, foto-foto #selfie bersama hadiahnya dikirim ke lombafotoblogger@gmail.com sebagai bukti penerima.
  5. Segala perselisihan, debat kusir tanpa kuda atau delman, caci maki, dikarenakan adanya lomba foto-foto ini, ditiadakan demi ketenangan dunia dan akhirat. Kalaupun ada, mohon dapat diselesaikan secara jantan di lapangan pingpong dekat rumah masing-masing. Dan member OBIwan tidak ikut bertanggungjawab atas keriuhan tersebut.

#MalangBromoTrip: Pantai Nganteb, Pantai Sepi Berpasir Lembut dengan Ombak yang Ganas

Posted on Updated on


Sampai saat saya menulis artikel ini saya masih kadang tertawa geli ingat tagline papan petunjuk menuju Pantai Nganteb ini “Wisata Religi Pantai Nganteb” tapi pas masuknya dibuat takjub karena ditemui beberapa wisatawan mancanegara bule-bule wanita dengan santainya berbikini ria di Pantai ‘Wisata Religi’ Nganteb. Ini baru namanya religi :mrgreen:

Pantai Nganteb, Malang. (kakaknya lagi galau :D )
Pantai Nganteb, Malang.

“eh eh..eh kesitu aja tuh tadi pas sebelum masuk Balekambang ada tulisan plang Pantai Ngantep” ujar salah satu wanita dalam rombongan kami yang diamini oleh beberapa lainnya. “ohh tapi itu tulisannya pantai wisata religi loh” “tenktop coret, hotpants coret berarti gak boleh” celoteh yang lainnya, beberapa diantara kami yang sudah terlanjur kecewa karena diasumsikan tidak akan memiliki cukup waktu ke Pantai Goa Cino ataupun Pantai Bajul Mati coba mengalihkan tujuan berikutnya ke Pantai Ngantep, pantai ini masih satu garis pantai dengan Pantai Balekambang, letaknya agak ke arah timur lagi. Elf pun segera diarahkan menuju ke pantai Nganteb, jalan menuju pantai sebenarnya hanya jalan berupa puing-puing bebatuan, bukan cor beton ataupun aspal, bahkan kami sempet ragu karena jalannya yang lumayan agak panjang kendati ada plang yang betuliskan “Pantai Nganteb 3,6 km” tapi kontur jalan bebatuan naik turun sedikit ditambah lagi pak Supir sendiri belum tahu keberadaan pantai ini namun sebenarnya petunjuk arahnya cukup jelas, setelah melewati jalan bebatuan yang menurun kita akan melintasi jembatan baru yang cukup bagus kemudian menanjak dan menemui jalan bebatuan berbelok belok hingga nanti sampai di pertigaan ada papan penunjuk arah ke Pantai Nganteb, jalannya berubah menjadi jalan kecil yang cukup sempit jika dilewati 2 mobil berbarengan sehingga jika berpapasan salah satu diantaranya harus berhenti terlebih dahulu.

Pantai Nganteb, Malang.
Pantai Nganteb, Malang.
'Wisata Religi' :mrgreen:
‘Wisata Religi’ :mrgreen:

Di dalam benak para teman-teman serombongan ini berharap jika pantainya bagus bahkan lebih bagus dari Balekambang karena jalan menuju pantainya yang sudah agak tidak wajar :mrgreen: . Tak lama dari pertigaan tersebut kami tiba di gerbang masuk, biasa biaya retribusi tiket pantai pun sudah diatur sehingga yang lainnya cukup duduk manis saja 😀 hehehe. “dih kok ada bule” kata seorang teman kami, kemudian Elf berjalan pelan mencari tempat parkir selama menuju tempat parkir yang tepat di pinggiran pantai sudah terdengar suara deburan obak yang cukup kencang dan terlihat ombaknya yang lumayan tinggi, pantainya pasti bagus nih begitu kata saya dalam hati. “ehh ehh bule nya bikinian” “ih iyah, ada bule lagi pake bikinian pula..wahh ini sih yang cowo yang seneng nih”, “katanya wisata pantai religi” ujar para wanita-wanita seakan protes :p . Sementara kami kaum pria hanya senyum-senyum penuh makna *kemudian ditampar para wanita*, begitu Elf parkir kami semua melihat 4 orang bule wanita dengan santainya bikinian dan rehat tepat  didepan bale-bale yang ada di depan Elf kami. Langsung terdengar nada protes dari para wanita, dan kami para pria kami semangat dong “ini nih baru yang namanya wisata religi” “wisata religi yang harus disegerakan” ucap saya yang disambut gelak tawa teman-teman lainnya.

Begitu turun dan melihat ke arah lautan, wuahh… Read the rest of this entry »

#MalangBromoTrip : Pantai Balekambang, Primadona di Selatan Malang

Posted on Updated on


Pura Luhur yang ada di Pulau ismoyo, Pantai Balekambang, Malang
Pura Luhur Amertha Jati diatas Pulau ismoyo, Pantai Balekambang, Malang

Setelah kereta tiba di pemberhentian terakhir, Stasiun Malang Kotabaru. Kami semua bergegas turun dan langsung re-group, kami yang berjumlah 12 orang dengan rincian 4 pria dan 8 wanita akhirnya bertemu dengan 2 wanita lagi di stasiun malang, mereka berencana ke Bromo namun masih mencari barengan, akhirnya mereka memutuskan ikut dalam rombongan kami, sip personil rombongan menjadi 14 orang. Tadinya rencana awal ialah langsung menuju penginapan untuk menaruh barang lalu makan pagi kemudian berangkat menuju Pantai Balekambang dan Pantai Goa Cino, namun ternyata berubah, kami memutuskan untuk bersih-bersih dan ganti pakaian di Stasiun, kemudian cari makan, lalu menuju pantai, ke penginapannya nggak? Ikutin duluu aja deh :mrgreen:

Sarapan Pecel Kawi, Malang
Sarapan Pecel Kawi, Malang

Setelah bersih-bersih tanpa mandi, ya tanpa mandi karena nggak akan cukup waktu jadi hanya berganti pakaian, saya pun mengganti celana panjang dengan celana trekking serta sandal yang sudah saya bawa, masalahnya jadi saya menyimpan celana jeans, jaket serta sepatu didalam tas saya, jadilah tas saya terlihat paling membumbung gemuk diantara lainnya hahaha. Keluar Stasiun kami sudah dijemput Elf yang cukup besar dan lumayan bagus dengan dilengkapi music dan AC didalamnya “hmm….cukup nyaman nih, bisa lah buat tidur” gumam saya dalam hati. “Makan dulu aja kali yah kita” “pak yang enak dan khas kalo buat sarapan disekitar sini apa pak” celoteh para wanita kepada bapak supir. Kemudian elf diarahkan ke Jalan Kawi Atas, dan berhenti di warung makan Pecel Kawi. Beberapa dari kami langsung memesan menu masing-masing, disini standarnya ialah nasi + pecel plus bumbu kacang + tempe + rempeyek kacang kalau mau lauk tamabahan lain silahkan pilih sendiri. Katanya nih yah ada yang nambah nasi tuh, kasihan mungkin dia lapar sekali yah :mrgreen:

Jalan Menuju Pantai Balekambang
Jalan Menuju Pantai Balekambang

Setelah makan perjalanan dilanjutkan ke arah Malang Selatan, sepanjang menuju keluar kota Malang jalanan cukup ramai namun lancar, maklum saja hari itu hari Minggu, bahkan ada ruas jalan utama yang cukup lebar ditutup karena ada acara semacam #CarFreeDay. Dalam perjalanan terjadi perdebatan halus namun sengit antara ‘Ibunya anak-anak’ yaitu Lidya dengan bapak Supir mengenai tujuan pantai yang akan dituju, Lidya beranggapan bahwa Pantai Bajul Mati, Goa Cino kemudian Balekambang searah jadi dapat dikunjungi semuanya. Sementara pak Supir beranggapan itu beda jalur, karena tiap ke pantai berarti harus memutar lagi melalui jalan utamanya jadi ada proses bolak-balik yang memakan waktu “ke Balekambang saja bisa 3 jam mbak” ujar pak Supir dengan bahasa Jawa Timuran yang lumayan medhok. Akhirnya diputuskan tujuan awal memang pantai Balekambang, lalu kemudian saya pun tertidur dan kembali terbangun karena berasa kok mobil makin lama-kelamaan beloknya makin aneh dan goncangan dalam mobil juga lumayan, tadinya nggak mau bangun tapi terpaksa kebangun dan wah…lihat kiri-kanan sudah berupa ladang tebu dan jalanan berupa jalanan agak kecil dengan 2 jalur tanpa pembatasnya jalanan berkelok-kelok naik turun lumayan agak lama, cuaca diluar begitu terik beruntung elf dilengkapi AC yang cukup ada hawa dinginnya :D. Sepertinya semuanya mulai terbangun dan mencoba menikmati ‘goyangan aduhai’ setiap tikungan yang dilibas pak Supir yang lumayan bisa bikin mual, tak lama celoteh-celoteh pun mulai bermunculan “buset goncangannya”, “jauh banget yah ini”, “kok lama banget yah”  sampai “pasti bagus nih biasanya kalo jalan kesananya begini” ujar para wanita-wanita itu, hihihi.

Sementara saya bergumam “biasanya kalau ke pantai yang kudu nanjak bukit dengan belok-belok gini, pasti keren, secara khas jalan menuju pantai kawasan selatan begitu” sama aja yah? Hahahaha. Trek menuju kesana sih mirip-mirip Cikidang menuju Pelabuhan Ratu, cuman kontur aspalnya saja yang berbeda lebih banyak agak rusaknya dibanding aspal mulus Cikidang. Begitu kami sampai di pintu gerbang masuk 14 orang ini pun Read the rest of this entry »

#MalangBromoTrip: Perjalanan 18 Jam di Dalam Matarmaja Menuju Malang

Posted on Updated on


penuh, dalam gerbong KA Matarmaja
penuh, dalam gerbong KA Matarmaja

Jakarta, 28 September 2013,

Perlahan kereta pun mulai melaju meninggalkan Stasiun Pasar Senen, Jakarta sekitar pukul 2 siang, telat sekitar 30 menit dari waktu keberangkatan yang seharusnya, belakang juga saya tau dari petugas yang berada di dalam kereta bahwa kedatangannya telat. Saya berada satu gerbong dengan rombongan teman-teman perjalanan satu trip ini, beruntung bagi saya masih bisa mendapatkan tiket H-7 sebelum keberangkatan dengan gerbong yang sama. Sayangnya tempat saya duduk terpisah, ah terlanjur, mari menikmati. Tempat duduk saya pun tak ada yang menarik dan saling diam, iseng saya pindah ke kursi yang kosong tepat di seberang teman-teman rombongan, saya pun berkenalan dan saling bertukar cerita dengan bapak yang menuju ke Tegal, kita bercerita banyak mengenai soal bisnis jual beli dan perbaikan alat berat. Keren kan bahasan di kereta ekonomi begini.hahahaha. Berawal darisinilah saya berpindah-pindah kursi mencari tempat kosong yang enak untuk ditempati, sama seperti mencari tambatan hati kan? #halahhalah

Jam 2 siang – jam 5 sore

Rangkaian kereta api Matarmaja saat itu cukup ramai dipenuhi oleh penumpang, mungkin karena tepat di hari Sabtu yang merupakan akhir pekan juga jadi pilihan tepat, selain itu banyak juga rupanya rombongan backpacker lain serta rombongan yang sepertinya akan melakukan pendakian ke gunung, terlihat dari tampilan dan bawaan mereka. Dengan harga tiket Rp 65.000,- tergolong cukup murah karena sudah disubsidi 50% dari Rp 130.000,- pantas saja ramai dan cukup penuh, apalagi meski kelas ekonomi Matarmaja ini dilengkapi Ac didalamnya yah sedikit nyaman. Kereta melaju cukup cepat, jam 5 saja sudah memasuki Stasiun Cirebon dan berhenti untuk ‘silang’ alias gantian lewat dengan kereta dari arah yang berlawanan.

Jelang Senja di Stasiun Cirebon
Jelang Senja di Stasiun Cirebon

Jam 6 sore – jam 12 malam

Begitu selepas Cirebon kereta baru melaju cukup cepat dibanding sebelumnya. Melewati waktu Maghrib gerbong di dalam mulai terasa dingin, masih cukup tertib karena tidak ada pedagang yang naik ke gerbong. Saya yang tadinya duduk di kursi 10 E terpaksa pindah-pindah menjadi musafir, karena tempat duduk 11A yang 3 baris sedang ditempati oleh bapak-bapak berperawakan lumayan nyeremin :mrgreen: “ahh males lah mending cari kursi lain aja” setelah beberapa kali pindah kursi akhirnya Read the rest of this entry »

Di Dalam Matarmaja Menuju Malang #BromoTrip

Posted on Updated on


image

Saat ini saya berada dalam rangkaian kereta api Matarmaja menuju Malang. Kota yang akan kami singgahi sebelum menuju kawasan gunung Bromo. Sendiri? Tidak, saya bersama 12 orang lainnya yang juga mengikuti trip ini. Yang lebih khan maen lagi, saya hanya mengenal satu orang saja. Yah…mirip mirip trip gabungan ala ala backpacker gitu lah yang suka ada di internet.

Penumpang cukup banyak kali ini kebanyakan dilihat dari gaya berpakaian mereka ala ala backpacker dan tak sedikit juga membawa barang bawaan layaknya pemudik di musim lebaran. Rak-rak tempat menaruh barang pun penuh, bahkan saya pun terpisah dari rombongan dan nekat pasang muka tembok agar bisa numpang kursi yang hanya diisi satu orang biar deket dengan rombongan.

Bagi saya sendiri, ini merupakan perjalanan pertama kalinya dengan cara ala-ala backpacker seperti ini. Pergi dengan orang-orang yang baru dikenal sesaat sebelum keberangkatan di stasiun, membawa tas ransel yg lumayan besar, duduk tegap di kereta ekonomi dalam jangka waktu yang lumayan lama. Sepertinya akan menjadi pengalaman baru bagi saya yang sebelum-sebelumnya lebih banyak menggunakan motor.

Lalu akan kemana saja nanti? Nih serunya, saya sendiri pun belum tau pasti, hahahaha. Tapi yang saya dengar ialah ini trip dual purpose. Maksudnya dari pantai lalu kemudian dingin-dinginan di Bromo. Tujuan wisata pertama kami setelah tiba di stasiun kota Malang ialah Pantai Balekambang.

Jadi, entahlah ini judulnya #BromoTrip atau #EkspedisiMalang. Akh…mari menikmati saja perjalanan ini.

Cerita dari Sawarna: Pesona Tanjung Layar

Posted on Updated on


My Redzzo at Tanjung Layar
My Redzzo at Tanjung Layar

Keesokan harinya saya terbangun tepat jam 5 pagi, ahh kulihat bro Bayu sedang mengambil air wudhu untuk subuhan, akupun menunggu giliran, setelah semua personil menunaikan ibadahnya, kami mengobrol sembari menikmati pagi itu, pak terasa sudah hampir jam 6 pagi dan langit sudah terang, tak mau kehilangan momen dan waktu yang terbatas, kami menuju ke bawah untuk memanaskan motor dan langsung menuju Tanjung Layar, jalanan di sekitar menuju Tanjung Layar becek dan agak sedikit berlumpur pasir pantai karena semaleman diguyur hujan, tapi ada banyak bagian yang aman untuk dilewati, tetep asik pokoknya.

The Motors
The Motors
Mari berpose :D
Mari berpose 😀
The Motors
The Motors

Tiba di Tanjung Layar, saya kembali terpesona akan keindahan ciptaan Sang Khalik, luar biasa, dua karang besar yang seakan menjadi simbol pantai Sawarna sekarang tepat berada di depan mata. Langsung kami berebut cari posisi yang bagus untuk menempatkan motor kami dengan latarbelakang karang Tanjung Layar, sialnya karena motor saya lumayan berat jadi agak susah parkir dan dapet spot sisa, nasib :mrgreen: . Setelah motor diparkir dengan kokoh, para personil dengan kamera masing-masing memfoto objek motornya loh, saya pun ikut ingin memfoto motor saya, merogoh kantong dan “haiyahh lupa kalo hp lagi di charge di kamar” , berhubung ada bro Aan saya pun meminjam kamera bro Aan dan bro Bayu ihihihihihi. Sejenak memandangi keadaan sekitar, rasanya tenang, damai palagi dengan deburan-deburan ombak yang mengantam karang panjang yang ada di belakang dua karang utama yang besar tersebut, dan udaranya pun masih sejuk walaupun sinar matahari di sisi timur sudah naik.

Seakan penasaran dengan dua karang yang menjulang dan melihat banyak pengunjung lain bisa nyebrang hingga ke karang tersebut , kami pun memutuskan menyebrang menuju dua karang berbentuk layar, keren euy kita serasa nyebrangin laut loh, airnya dingin, jernih banget, pagi itu air pada saat kami menyebrang hanya sampai sedikit diatas lutut kami, sesekali agak sampai ke paha, seru!.

Para Sahabatku
Para Sahabatku
Nyebrang laut euy
Nyebrang laut euy hihihihi
Nyebrang laut :p
Nyebrang laut :p

Sampai di depan bagian dua karang Tanjung Layar persis Read the rest of this entry »