Perjalanan

Test Ride KA Ekonomi Tegal Ekspress: Nyaman dan Adem

Posted on Updated on


Berhubung tanggal 24 Agustus ini saya harus ke Indramayu, tepatnya di Haurgeulis. Pilihan moda transportasi yang saya pilih ialah kereta, kok bukan motor bro? Sama ajalah bro kereta juga ada rodanya kan. Kereta Api Tegal Ekspress yang jadi pilihan saya, rangkaian gerbong kereta dengan kelas ekonomi. Kebetulan sekalian mau njajal kelas ekonomi yang sekarang ini yang katanya pemberitaan di media bahwa PT KAI merevolusi pelayanan untuk perjalanan menggunakan moda transportasi kereta api.

image
Tiket ekonomi

Bayangan akan kelas ekonomi yang sumpek pengap dan rebutan tempat duduk saya tidak menemukannya kali ini. Begitu menaiki dan masuk ke dalam gerbong Tegal Ekspress ini hawa udara sejuk ac saya rasakan..wuihhh..dingin..adem..hehehehe.. Rupanya ada fitur pendingin udara sekitar 6-8 buah AC Split di setiap gerbongnya yang bikin rider penumpang tidak kegerahan.

image
AC Split dingin euy

Lalu sampai ditempat duduk sesuai nomor saya mendapati fitur yang sebelumnya tidak ada, yaitu colokan listrik, salah satu fitur keselamatan baterai penyelamat para penggiat socmed saat bepergian. Jadi bakalan tenang nih soalnya bisa ngecharge ponsel disini.

image
Salah satu fitur keselamatan baterai ponsel para penggiat socmed

Kemudian kursinya pun bagus tak ada sobek sana sini ataupun bahkan patah. Yang gak berubah cuman satu, tau? Posisi ergonomi badan ketika duduk masih tetap tegap ala militer hahahahaha. Jadinya kalau pas ngantuk mau tidur ya agak gak enak memang, namun beruntung bagi saya saat itu kereta yang tiap gerbongnya mampu menampung maksimal 106 orang, di dalam gerbong saya hanya terisi sekitar 15 orang, bahkan saya berpindah kursi cari posisi  69 enak dan selonjoran sembari menikmati pemandangan.

image

image

Yups, jadi overall kereta ekonomi ac ini sudah manusiawi :mrgreen:

Nah, cuman jangan sampai nanti pada saat perjalanannya kedepan malah perawatan terbengkalai, pihak PT KAI juga harus serius melakukan perawatan selain itu para penumpang juga berusaha menjaga kenyamanan kereta ekonomi ini kan enak toh jadinya.

Salam Sepur!

Advertisements

Jalan Iseng ke Gunung Bunder: Nyoba Jalur Lain Menuju Gunung Bunder

Posted on Updated on


Membaca sebuah notifikasi dari facebook saya yang rupanya, teman-teman Binusian2009 yang tergabung dalam grup Arisan binusian2009 mengadakan penutupan Arisan putaran ke 2 ini yang diadain di Kawasan Wisata Gunung Bunder di Salak Endah, Bogor, Jawa Barat. Ngeliat dan tau lokasi yang lumayan deket , wait? deket? iya, deket kok kalo dari rumah, cobain deh, kalo gak deket juga yah jauh berarti hahaha. Nah berhubung pas banget nih, lokasinya gak terlalu jauh juga (gak jadi bilang deket deh :mrgreen: padahal emang deket loh) , planningin bakalan kesana naik motor, itung-itung short trip pemanasan ke Sawarna bareng FR2 Chapter Tangerang nanti. Tapi rencana cuman rencana, si kesayangan my Redzzo (re: pulsar220) rupanya sudah ada peminatnya dan harus dilepas H-7 sebelum keberangkatan. kontak sana-sini ternyata bro Bayu berbaik hati sekali loh dengan meminjamkan si Tigy buat saya tunggangi, yiiha tinggal siapin rute.

Tadinya saya pikir ada yang barengan juga naik motor, oh ternyata saya sendiri rupanya, hahaha, gak apa-apalah sudah biasa sendiri #eeaa , cari rute buat kesana, emang sih udah pernah kesana, tapi naik mobil bareng temen juga, jadi ambil rute aman yah kalo dari rumah saya di Karawaci ambil arah BSD terus menuju Puspitek melewati Serpong kemudian masuk ke Ciseeng Prumpung terus hingga ke arah Jalan Raya Parung Bogor, kemudian di Pertigaan Soleh Iskandardinatta (tanah sareal) belok kanan buat ke arah IPB Dramaga, dari IPB Dramaga lurus terus ikutin jalan hingga nanti ke Jalan Raya Leuwiliang, karena jalannya itu aja terus belok kiri di plang jalan arah masuk Gunung Bunder. itu rute aman, yang saya tau, tapi kali ini saya mau nyeleneh, yakin ada jalan lain buat memotong jalan buat sampe ke jalan raya Leuwiliang. cek di Gmaps akhirnya nemu juga, kalo tadi dari arah BSD terus menuju Puspitek melewati Serpong kemudian masuk ke Ciseeng Prumpung kali ini ambil yang ke arah Rumpin kemudian belok kiri ke arah Ciampea hingga tembus ke Jalan Raya Leuwiliang.

Ini Rutenya
Ini Rutenya (klik aja)
Arah Papan Jalan Jelas. (foto: gilang)

Kondisi jalannya? kalo di Ciseeng Prumpung seperti biasa, Read the rest of this entry »

Cerita dari Sawarna: Pesona Tanjung Layar

Posted on Updated on


My Redzzo at Tanjung Layar
My Redzzo at Tanjung Layar

Keesokan harinya saya terbangun tepat jam 5 pagi, ahh kulihat bro Bayu sedang mengambil air wudhu untuk subuhan, akupun menunggu giliran, setelah semua personil menunaikan ibadahnya, kami mengobrol sembari menikmati pagi itu, pak terasa sudah hampir jam 6 pagi dan langit sudah terang, tak mau kehilangan momen dan waktu yang terbatas, kami menuju ke bawah untuk memanaskan motor dan langsung menuju Tanjung Layar, jalanan di sekitar menuju Tanjung Layar becek dan agak sedikit berlumpur pasir pantai karena semaleman diguyur hujan, tapi ada banyak bagian yang aman untuk dilewati, tetep asik pokoknya.

The Motors
The Motors
Mari berpose :D
Mari berpose 😀
The Motors
The Motors

Tiba di Tanjung Layar, saya kembali terpesona akan keindahan ciptaan Sang Khalik, luar biasa, dua karang besar yang seakan menjadi simbol pantai Sawarna sekarang tepat berada di depan mata. Langsung kami berebut cari posisi yang bagus untuk menempatkan motor kami dengan latarbelakang karang Tanjung Layar, sialnya karena motor saya lumayan berat jadi agak susah parkir dan dapet spot sisa, nasib :mrgreen: . Setelah motor diparkir dengan kokoh, para personil dengan kamera masing-masing memfoto objek motornya loh, saya pun ikut ingin memfoto motor saya, merogoh kantong dan “haiyahh lupa kalo hp lagi di charge di kamar” , berhubung ada bro Aan saya pun meminjam kamera bro Aan dan bro Bayu ihihihihihi. Sejenak memandangi keadaan sekitar, rasanya tenang, damai palagi dengan deburan-deburan ombak yang mengantam karang panjang yang ada di belakang dua karang utama yang besar tersebut, dan udaranya pun masih sejuk walaupun sinar matahari di sisi timur sudah naik.

Seakan penasaran dengan dua karang yang menjulang dan melihat banyak pengunjung lain bisa nyebrang hingga ke karang tersebut , kami pun memutuskan menyebrang menuju dua karang berbentuk layar, keren euy kita serasa nyebrangin laut loh, airnya dingin, jernih banget, pagi itu air pada saat kami menyebrang hanya sampai sedikit diatas lutut kami, sesekali agak sampai ke paha, seru!.

Para Sahabatku
Para Sahabatku
Nyebrang laut euy
Nyebrang laut euy hihihihi
Nyebrang laut :p
Nyebrang laut :p

Sampai di depan bagian dua karang Tanjung Layar persis Read the rest of this entry »

Cerita dari Sawarna: Pesona Pantai Sawarna

Posted on Updated on


Sawarna!
Sawarna!

Setelah melewati jembatan gantung, kami langsung menuju tempat penginapan yang akan kami tempati hingga besok, pilihan kami ialah penginapan Java Beach Vilage dengan bangunan yang paling mencolok, karena berlantai dua dan dengan gaya cukup modern dibanding penginapan/homestay sekitar dan halaman untuk parkirnya enak dan luas. Setelah deal bahwa kami akan menempati penginapan ini dengan harga Rp 135.000/orang, kami mencoba untuk menyusuri pantai Sawarna, mungkin namanya Pantai Pasir Putih Ciantir kali yah, lupa saya juga. Agak sableng emang siang-siang tengah hari jam 11-an malah ke pantai, tujuannya sih cuman buat survey spot-spot lokasi bagus yang enak buat foto aja sekaligus menghilangkan rasa penasaran karena katanya pantai Sawarna yang masih bersih dan indah dipandang. Dari penginapan dan perkampungan/homestay yang ada di desa Sawarna tidak terlalu jauh sebenernya, yah mungkin (mungkin loh yah) sekitar 500 meter lah, tapi kami tetap menuju kesana menggunakan motor hahahaha.

Pertama masuk areal pantai ada Gapura yang terbuat dari bambu dan jalan setapak yang sudah berupa conblock, kemudian jalan bercabang jika ke kanan menuju Pantai Pasir Putih Ciantir kalau ke kiri menuju Tanjung Layar, kami coba ke arah Tanjung Layar karena kalau ke pantai ditengah hari bolong begitu gak asoy euy hehehe :mrgreen: .Namun kami tidak sampai ke Tanjung Layarnya karena biar rasa penasaran akan eksotisme (tsaaahhh eksotisme bahasanye lebay dikit hihihihihi) Tanjung Layar biarlah memuncak pada sore harinya ketika sunset tiba. Akhirnya kami berhenti pada satu spot dimana pantainya sudah berupa karang-karang dan posisi kami kira-kira berada diantara Pantai Pasir Putih Ciantir dan Tanjung Layar, kebetulan spotnya cukup bagus dan adem karena ada pepohonan ribun, cocok lah untuk sejenak melepas lelah, jadi kami berhenti sembari beristirahat dan berfoto ala kadarnya. Sembari duduk istirahat saya terkesan dengan pesonanya, Subhanallah Maha Suci Allah dengan segala ciptaanNya, saya pun memandang indah pesisir pantai di Sawarna ini sebelah kanan hingga pantai yang dibatasi bukit serta ombak yang cukup besar namun indah memang memancarkan pesona tersendiri, teringat akan dialog di film 5cm! “Dunia ini sangat indah Tuhan, bantu kami menjaganya”.

and here we are!
and here we are!
hey you!
hey you!

Sawarna

Setelah puas menikmati panorama sekitaran gugusan pantai dan jernihnya air laut, kami beranjak untuk kembali menuju penginapan, karena perut sudah mulai terada lapar, harap maklum karena kami menempuh perjalanan cukup jauh yang Read the rest of this entry »

Cerita dari Sawarna: Melewati Jembatan Gantung Legendaris

Posted on Updated on


Saya saat melewati Jembatan Gantung Sawarna
melewati Jembatan Gantung Sawarna

Dan akhirnya tibalah giliran saya untuk melewati jembatan gantung tersebut setelah bro Aan, dengan kaki masih gemetar, namun pandangan fokus dan konsentrasi untuk mengendalikan motor, saya menunggu jembatan tersebut benar-benar diam kemyudian barulah saya melintas, sensasinya uwooowww,, deg deg serrrr pas di tengah tengah, agak bergoyang bahkan saya sempet oleh ketika sudah mau hampir ujung dan karena takut saya menambah tarikan gas agar lebih cepet sampai, hahaha, padahal seharusnya saya tetap tenang hingga ujung jembatan. Ketika sudah tiba saya langsung minggir dan turun dari motor lalu duduk, bro Mapud yang dibelakang saya melaju cukup mulus, ketika ditanya saya hanya bilang “bro rehat bentar bro, dengkul gue gemeteran bro” hahahaha.

memperhatikan cara warga menyebrang
memperhatikan cara warga menyebrang

Saking penasarannya saya akan kehebatan warga sekitar dalam melewati jembatan tersebut, kami mencoba observasi bagaimana para warga dalam melewati jembatan tersebut dengan motornya, bahkan ada anak kecil yang mengendarai  motor matik dengan entengnya sedikit ngebut, sampai  ada yang dengan satu tangan pula! Read the rest of this entry »

Cerita dari Sawarna : Insiden Jembatan Gantung!

Posted on Updated on


Ketika melihat kerumunan parkiran mobil dan keramaian orang yang menandakan bahwa kami sudah sampai di Desa Sawarna, perasaan senang tersebut sekejap saya redam, sebab kami masih harus melewati rintangan berupa jembatan gantung yang merupakan satu-satunya jalan masuk menuju objek wisata Pantai Sawarna.

Jembatan Gantung ini jalan satu-satunya menuju pantai Sawarna

Seketika perasaan saya berubah menjadi sedikit tegang karena jujur saja agak takut melewati jembatan gantung tersebut dengan motor, apalagi baca-baca ride report di forum-forum bikers goyangan jembatan Sawarna ini aduhai goyangannya, hehehe. Saya pun mulai berfikir dan memaksa otak saya bekerja lagi untuk mengingat bagian bagian tips dan trik para bikers ketika melewati jembatan gantung di Sawarna ini, baiklah saya siap!.

Namun rasanya kami belum siap, sempet terjadi saling tunjuk diantara kami, hahahaha, dan akhirnya sesuai urutan motor yang sampai pada saat itu bro Bayu, bro Aan, saya kemudian bro Mapud. Bro Bayu berjalan melewati jembatan dengan mulus namun Tiger Revo+Box Maxia52 cukup membuat jembatan gantung ini bergoyang, eh lah dilalah belum selesai goyangan di jembatan gantungnya berhenti tetiba warga yang menjaga jembatan itu menyuruh bro Aan maju, ketika bro Aan maju dan dalam kondisi jembatan yang masih goyang, saya menerawang Read the rest of this entry »

Ride to Sawarna : Nyaris Mengitari Banten

Posted on Updated on


Setelah dua kali hasrat untuk mengunjungi Sawarna tertunda, kali ini untuk yang ke tiga kalinya saya berhasil mewujudkannya, hehehehe. Ya, Sawarna yang merupakan sebuah desa,berada di Selatan Lebak, Banten memiliki pesona pantai yang indah. Beberapa teman bikers pun bolak-balik melakukan perjalanan kesana, hingga membuatku penasaran mengapa mereka sampai bisa balik lagi ke Sawarna. Akhirnya 2 orang sahabat yang memang memiliki hobi yang sama, bro Bayu dan bro Mahfud, bertiga rasanya ganjil, maka saya mengajak salah satu member FR2 Kaskus Chapter Tangerang yang memiliki hasrat tinggi mengunjungi Sawarna, bro Aan. Sepakat untuk berangkat tanggal 24 dan pulang keesokan harinya tanggal 25 Desember 2012.

Berhubung belum tau jalur menuju Sawarna, bahkan jalur menuju Pelabuhan Ratu saja tidak tahu, saya menanyakan rute menuju Sawarna melalui bro Gilang ‘Cherrycola’. Oleh bro Gilang kami dibuatkan maps, dilihat dari rute mapsnya cukup mudah, dari selepas Ciawi kemudian masuk ParungKuda menuju Cikidang dan tembus ke Pelabuhan Ratu hingga kemudian menyusuri pantai daerah Cisolok dan sampai di desa Sawarna, simple. Namun nyatanya, kenyataan berkata lain hahahaha. Kami agak melenceng dari rute maps yang diberikan bro Gilang, kami yang harusnya melewati Parungkuda ternyata malah melewati rute Cibadak dan jalan Citarik baru sampai ke kota Pelabuhan Ratu. Saya yang belom pernah lewat cikidang pun terkecoh, pertama masuk jalanan awalnya mulus belok naik turun dengan kanan-kiri kebun “wahhh ini nih yang namanya jalur Cikidang” gumam saya, tapi rada bingung kok jalannya tapi gak lama dari itu jalanan berubah banyak lobang, gradak gruduk kemudian mulus banget eh kemudian ancur lagi jalanannya udah gitu lebih banyak rumah penduduknya, sembari jalan sambil bingung ini jalur tembusnya kemana dan merasa mulai hilang konsentrasi saya menepi disusul bro Bayu yang ikut menepi juga untuk sekedar minum dan rehat sejenak dari motor, sementara bro Mapud dan bro Aan sudah melaju jauh di depan.

Peta Awal yang ditunjukan oleh bro Gilang
Peta Awal yang ditunjukan oleh bro Gilang

“Bay, ini kok jalur nya gradak gruduk gak putus-putus nih, ini Cikidang bukan sih?” tanya saya, bro bayu dengan keheranan bilang “ini bukan Cikidang wo, Cikidang gak kayak begini”, saya pun tertawa “walah…kampret kena korban PHP, gw pikir Cikidang gak taunya bukan”. Baiklah perjalanan diteruskan berdua bro Bayu, gak sampai 10 menitan jalan akhirnya kami bertemu dengan bro mapud dan bro Aan yang nungguin kami di SPBU jalan Citarik menuju Pelabuhan Ratu. Ketika saya ceritakan bahwa rupanya ini bukan jalur Cikidang bro Mapud selaku yang dari awal berjalan paling depan tertawa “gue juga heran, kok begini yah jalannya kayaknya gue lupa juga bro, yaudah gue terusin pasti juga nembus ke Pelabuhan ratu” hahahaha kampret!. Namun benar, gak lama dari SPBU jalan Citarik tersebut kami bertemu pertigaan yang terdapat plang kalau Kiri ke Arah Surade dan Ujung Genteng lalu plang ke arah kanan Pelabuhan Ratu, kami ambil jalur kanan arah Pelabuhan ratu, gak jauh darisitu kami masuk ke Kota Pelabuhan Ratu, agak lumayan terik memang matahari pagi itu, jam saya lihat masih menunjukan pukul 8 pagi dan kami sudah menyadari sudah 2 jam lebih sedikit kami berkendara dan waktunya istirahat sejenak, eh kebetulan ketemu SPBU bagus di Pelabuhan ratu yang deket tempat pelelangan ikan, berhentilah kami disitu sekitar 10 menit untuk isi bensin dan sekedar istirahat. Kelar istirahat dan mengejar waktu target karena harus sudah sampai tujuan jam 10 pagi, kami mencoba bergegas tanpa melupakan esensi dari safety riding, jalanan dari Pelabuhan Ratu menuju Cisolok cukup enak, berliku naik turun dengan pemandangan di sisi kiri Pantai Pelabuhan Ratu pagi itu ditengah bukitnya masih ada garis-garis kabut yang rasanya kok seperti ‘memanggil’ Read the rest of this entry »