#MalangBromoTrip: Berburu ‘Famous Sunrise’ di Pananjakan, Bromo

Posted on Updated on


Lukisan Tuhan
‘Lukisan’ Sang Pencipta dari Penanjakan Bromo

Malam masih gelap dengan hawa dingin khas Malang, kami rasanya baru saja merebahkan diri, menikmati kasur dengan memejamkan mata dan mulai berjalan memasuki alam mimpi tapi Jam 1  dinihari pintu kamar kami sudah digedor-gedor oleh ‘ibu ketua’ rombongan, “apaan sih ini rame amat baru juga tidur” gumam saya, tapi sedetik kemudian sadar sontak saya kaget dan terbangun melihat jam yang sudah menunjukan hampir pukul 1 dinihari “akhh…baru juga tidur” kemudian membuka pintu “lah…dia udah rapih ajah, gile tidur jam berapa?” gumam saya. Jika dihitung saya baru saja tidur sekitar satu setengah jam, tapi apa daya harus melawan rasa kantuk karena bersiap untuk menyantap menu utama dalam trip kali ini, explore Bromo!. Segera saya nyalakan lampu kamar dan membangunkan 3 teman lainnya yang sekamar, masuk kamar mandi duluan untuk bersih-bersih dan bersiap, tak ketinggalan mini tankbag 7Gear ditambah perlengkapan tambahan seperti Buff, Kupluk, Sarung tangan serta handuk kecil serta jaket Cartenz saya kenakan. Saya pikir paling teman-teman wanita yang lainnya juga lagi bersiap siap, eh lah dalah gak taunya mereka memang sudah siap di mobil alias tinggal jalan, yaa harap maklum saja para lelaki ini biasa lah yah telat bangun:mrgreen: .

Dua mobil Jeep sudah menunggu didepan penginapan, satu jeep diisi oleh 7 orang dari rombongan kami plus 1 orang pengemudi Jeep yang berpengalaman. Muat? Ya muat lah hehehe. Oia , Jeep yang kami sewa ini biayanya Rp.1.100.000,-/Jeep dengan rute (Jemput di kota Malang-Penanjakan-Bromo-Pasir Berbisik-Bukit Teletubbies-Malang-Stasiun). Jam menujukan pukul 01.40 waktu Malang, iring-iringan deru Jeep ini membelah kesunyian kota Malang yang sepi, begitu berbeda dengan kota jakarta yang tiap jamnya selalu ramai tak pernah mati, biarpun jalanan kosong dan lalu lintas sepi tapi urusan safety tetap yang utama, aturan lalu lintas tetap dipatuhi selama dalam perjalanan menuju Penanjakan, Bromo. Jalur yang diambil ialah melalui Tumpang – Ngadas, perjalanan lancar tanpa hambatan sampai akhirnya ketika memasuki derah Tumpang jalanan mulai menyempit dengan terus menanjak, tak ada pemandangan yang bisa kami nikmati malam itu, gelap. memasuki wilayah Ngadas kami mulai memasuki jalan terjal menanjak dan menyempit yang hanya muat 1 kendaraan jika berjalan di jalur normal, apabila ada kendaraan lain, yah harus bergantian menunggu dan minggir sedikit mepet-mepet tebing atau……….jurang, serem? Ya, tapi kami dikemudikan oleh yang berpengalaman tentunya dan untungnya hampir dipastikan jalanan dari Ngadas yang menuju masuk ke kawasan TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) kendaraannya semua satu arah menuju kawasan TNBTS.

'batas' pagi dan malam, serta bulan yang siap berganti tugas dengan matahari
‘batas’ pagi dan malam, serta bulan yang siap berganti tugas dengan matahari

Ada kejadian yang lumayan agak aneh selepas memasuki gerbang TNBTS, ketika Jeep teman kami yang didepan sudah berjalan lalu Jeep kami pun menyusulnya setelahnya terdengar suara teriakan disambung tawa melengking keras. Ketika teman kami yang didepan bertanya “tadi denger nggak” beberapa diantara kami ada yang mendengar ada yang tidak, saya termasuk yang mendegar dan ketika memperhatikan ke pengemudi Jeep dia tetap diam tidak membahasnya. Jalanan terus menanjak saya coba melihat ke jendela dan ternyata…kami dekat sekali dengan langit, begitu banyak bintang yang terlihat jelas di mata dan bulan sabit yang begitu jelas
“wuaahhh…banyak bintang langitnya, keren ini keren banget”…maka itu ketika sampai persimpangan Jemplang yaitu perbatasan jalan antara Semeru dan Bromo teman kami di Jeep depan berhenti untuk berfoto, tapi Jeep kami tetap lanjut menuruni bukit jalan dengan seksama, diselingi kontur jalanan yang bervariasi mulai aspal yang ambles hingga jalanan yang hanya dilapisi bebatuan karena rusak, mulailah kekuatan Jeep 4WD ini menjalankan tugasnya dengan baik. Setelah melalui jalan berkabut dan ‘ajluk-ajlukan’ yang lumayan bisa bikin mata melek akhirnya Jeep sudah berada di lautan pasir Bromo, kondisi jalanan depan gelap karena kabut, jarak pandang mungkin maksimal hanya 5 meter tak lebih pengemudi kami makin mengerahkan segenap skill dan pengalamannya melewati lautan pasir ini, herannya mereka hafal loh arah jalannya musti kemana, belok kanan-kirinya, hebat. ‘Atraksi’ selanjutnya ialah ketika tetiba pengemudi berhenti menerima telepon dari pengemudui Jeep teman kami yang lain dan menjelaskan posisinya, kemudian……1…2…3..bruummmm…… entah darimana datangnya tiba-tiba dari arah kanan kiri hingga belakang kami muncul sekumpulan Jeep yang sepetinya mereka ‘janjian’ untuk melaju beriringan, “wuiidihhhh…kerennn” begitu teman-teman didalam jeep bilang, menyaksikan sorot lampu belasan Jeep berjalan serentak, atraksi tak berhenti disitu tetiba pengemudi kami banting setir dan melewati jalur yang berbeda dengan Jeep lainnya, hasilnya ketika memasuki wilayah Penanjakan, Bromo Jeep kami ada dideretan depan.

dan..'pertunjukan' dari Sang Pencipta pun tiba
dan..’pertunjukan’ dari Sang Pencipta pun tiba

Kami tiba sekitar pukul 4 pagi, turun dari Jeep tadi dan…..semua dari kami langsung merasakan hawa dingin yang begitu menusuk kulit, entah berapa derajat suhu saaat itu perkiraan saya yang jelas dibawah 10 hingga 5 derajat celcius, beruntung bagi pakaian yang saya kenakan benar-benar siap, jaket windbreaker waterproof dari Cartenz dengan bahan dalam polar, Buff yang melingkar di leher, serta sepatu tipe outdoor menjalankan tugasnya dengan baik, tapi tidak dengan tangan, pakai sarung tanganpun seakan terasa percuma apalagi ditambah gak bisa mengoperasikan handphone, hehehe. Mengenai jaket Cartenz yang saya kenakan, saya baru ‘ngeh kalau jaket outdoor lokal ini ialah produksi asli Malang, wah jaketnya pulang kampung nih:mrgreen: .Bagi yang tak membawa jaket , sarung tangan, syal, kupluk sebagai penahan dingin, bisa menyewa di lapak warung yang ada di sekitar situ. Bagi yang ingin menghangatkan diri dengan teh, kopi atau mie rebus juga tak perlu khawatir, tinggal masuk ke lapak warung dan pesan. Setelah solat subuh di mushola kecil sekitar situ kami mulai berjalan menuju ‘Sunrise Point’. Gimana rasanya? Engap, begini ternyata rasanya kalo diatas gunung, rupanya ketinggian Sunrise Point Penanjakan ini sekitar 2700 mdpl pantas saja karena terasa cukup tinggi, sebagai perbandingan tinggi gunung Batok dan gunung Bromo itu sekitar 2300 mdpl.  Begitu tiba di Sunrise Point Penanjakan, sudah banyak turing lokal maupun luar negeri yang standby ditempatnya, bahkan banyak diantara turis mancanegara tak mau bergeser sedikitpun dari posisi mereka, kebanyakan mengambil posisi tepat di pagar pembatas. Lupakan kerumunan orang-orang itu dan lihat jauh ke kiri arah timur dan……wahh….garis emburat oren sudah terlihat, disini begitu jelas batas antara pagi dan malam, dan bisa terlihat begitu jelas sang bulan yang sudah akan siap ‘berganti shift’ dengan sang matahari. Pantas saja mereka menamakan ‘the famous sunrise’ , jika melihat ke depan siluet gunung Batok, gunung Bromo sampai  si tertinggi dipulau Jawa, gunung Semeru sudah nampak, pemadangan keren lainnya ialah kami bisa melihat kabut tebal yang menutupi kawasan Bromo mirip seperti aliran sungai, luar biasa indah. Tak lama sedikit demi sedikit matahari pun mulai memunculkan diri, biasanya kamera pocket, handphone, sampai profesional langsung merekam momen ini, saya pun demikian namun kemudian menyadari lebih baik menikmati momen ini dengan mata kita, biarkan mata kita menangkap dan merekam semua ‘pertunjukan’ dari Tuhan yang luar biasa indah ini.

This slideshow requires JavaScript.

7 thoughts on “#MalangBromoTrip: Berburu ‘Famous Sunrise’ di Pananjakan, Bromo

    Azdi - SociusRider said:
    October 13, 2013 at 2:27 am

    jahad, ga ngajak, huhhh

    Like

    blognyamitra said:
    October 16, 2013 at 8:43 am

    gak ada trip kuliner ???

    Like

      fajardinihari88 responded:
      October 17, 2013 at 6:45 am

      gak sempet cak..cuman sempet bakso president sama pecel kawi

      Like

    Triyanto said:
    October 30, 2013 at 8:41 am

    gw 1 tahun di Malang ga sempet ke Bromo. .. kalo family bawa krucil 3 butir naik Matarmaja bisa setrezzz .. di thn 2000, Banyumas (Kroya) – Malang 24 Jam, sekarang berarti lebih baik dan cepat bisa 18 jam dr Jakarta

    Like

      fajardinihari88 responded:
      October 31, 2013 at 9:56 am

      dari jakarta aja 18 jam mas..kalem weh mah klo skrg..ekonomi juga udah enak

      Like

    Novi Kynesi said:
    November 14, 2013 at 5:37 pm

    wah..saya juga baru abis dari Bromo dan sekitarnya akhir oktober kemarin Mas…cuma ga sampai ke Gunung Penanjakan untuk lihat sunrise. Nice Post.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s