#MalangBromoTrip : Pantai Balekambang, Primadona di Selatan Malang

Posted on Updated on


Pura Luhur yang ada di Pulau ismoyo, Pantai Balekambang, Malang
Pura Luhur Amertha Jati diatas Pulau ismoyo, Pantai Balekambang, Malang

Setelah kereta tiba di pemberhentian terakhir, Stasiun Malang Kotabaru. Kami semua bergegas turun dan langsung re-group, kami yang berjumlah 12 orang dengan rincian 4 pria dan 8 wanita akhirnya bertemu dengan 2 wanita lagi di stasiun malang, mereka berencana ke Bromo namun masih mencari barengan, akhirnya mereka memutuskan ikut dalam rombongan kami, sip personil rombongan menjadi 14 orang. Tadinya rencana awal ialah langsung menuju penginapan untuk menaruh barang lalu makan pagi kemudian berangkat menuju Pantai Balekambang dan Pantai Goa Cino, namun ternyata berubah, kami memutuskan untuk bersih-bersih dan ganti pakaian di Stasiun, kemudian cari makan, lalu menuju pantai, ke penginapannya nggak? Ikutin duluu aja deh:mrgreen:

Sarapan Pecel Kawi, Malang
Sarapan Pecel Kawi, Malang

Setelah bersih-bersih tanpa mandi, ya tanpa mandi karena nggak akan cukup waktu jadi hanya berganti pakaian, saya pun mengganti celana panjang dengan celana trekking serta sandal yang sudah saya bawa, masalahnya jadi saya menyimpan celana jeans, jaket serta sepatu didalam tas saya, jadilah tas saya terlihat paling membumbung gemuk diantara lainnya hahaha. Keluar Stasiun kami sudah dijemput Elf yang cukup besar dan lumayan bagus dengan dilengkapi music dan AC didalamnya “hmm….cukup nyaman nih, bisa lah buat tidur” gumam saya dalam hati. “Makan dulu aja kali yah kita” “pak yang enak dan khas kalo buat sarapan disekitar sini apa pak” celoteh para wanita kepada bapak supir. Kemudian elf diarahkan ke Jalan Kawi Atas, dan berhenti di warung makan Pecel Kawi. Beberapa dari kami langsung memesan menu masing-masing, disini standarnya ialah nasi + pecel plus bumbu kacang + tempe + rempeyek kacang kalau mau lauk tamabahan lain silahkan pilih sendiri. Katanya nih yah ada yang nambah nasi tuh, kasihan mungkin dia lapar sekali yah:mrgreen:

Jalan Menuju Pantai Balekambang
Jalan Menuju Pantai Balekambang

Setelah makan perjalanan dilanjutkan ke arah Malang Selatan, sepanjang menuju keluar kota Malang jalanan cukup ramai namun lancar, maklum saja hari itu hari Minggu, bahkan ada ruas jalan utama yang cukup lebar ditutup karena ada acara semacam #CarFreeDay. Dalam perjalanan terjadi perdebatan halus namun sengit antara ‘Ibunya anak-anak’ yaitu Lidya dengan bapak Supir mengenai tujuan pantai yang akan dituju, Lidya beranggapan bahwa Pantai Bajul Mati, Goa Cino kemudian Balekambang searah jadi dapat dikunjungi semuanya. Sementara pak Supir beranggapan itu beda jalur, karena tiap ke pantai berarti harus memutar lagi melalui jalan utamanya jadi ada proses bolak-balik yang memakan waktu “ke Balekambang saja bisa 3 jam mbak” ujar pak Supir dengan bahasa Jawa Timuran yang lumayan medhok. Akhirnya diputuskan tujuan awal memang pantai Balekambang, lalu kemudian saya pun tertidur dan kembali terbangun karena berasa kok mobil makin lama-kelamaan beloknya makin aneh dan goncangan dalam mobil juga lumayan, tadinya nggak mau bangun tapi terpaksa kebangun dan wah…lihat kiri-kanan sudah berupa ladang tebu dan jalanan berupa jalanan agak kecil dengan 2 jalur tanpa pembatasnya jalanan berkelok-kelok naik turun lumayan agak lama, cuaca diluar begitu terik beruntung elf dilengkapi AC yang cukup ada hawa dinginnya😀. Sepertinya semuanya mulai terbangun dan mencoba menikmati ‘goyangan aduhai’ setiap tikungan yang dilibas pak Supir yang lumayan bisa bikin mual, tak lama celoteh-celoteh pun mulai bermunculan “buset goncangannya”, “jauh banget yah ini”, “kok lama banget yah”  sampai “pasti bagus nih biasanya kalo jalan kesananya begini” ujar para wanita-wanita itu, hihihi.

Sementara saya bergumam “biasanya kalau ke pantai yang kudu nanjak bukit dengan belok-belok gini, pasti keren, secara khas jalan menuju pantai kawasan selatan begitu” sama aja yah? Hahahaha. Trek menuju kesana sih mirip-mirip Cikidang menuju Pelabuhan Ratu, cuman kontur aspalnya saja yang berbeda lebih banyak agak rusaknya dibanding aspal mulus Cikidang. Begitu kami sampai di pintu gerbang masuk 14 orang ini pun sumringah. “ Ini rombongan anak sekolah pak” begitu kata pak Supir sehingga kami dikenai tiket masuk harga pelajar, saya pun tertawa “ada apa anak sekolah kumisan” kemudian tertawa bersama. Harga tiket masuk yang tertera di pos itu ialah Rp.11.000/orang sementara untuk motor atau mobil/Bus kalau tidak salah Rp.2000-5000 sekali masuknya.

sisi timur Pantai Balekambang
sisi timur Pantai Balekambang

“wihh….lauuut” ujar Desty dengan semangat, “waahhh….bagusss lautnya” satunya lagi menambahkan,  “waahhhh panas banget ini” tambah beberapa wanita dari rombongan kami, beberapa diantaranya ada yang langsung mengambil foto landscape pantai ini. Oh iya kalian harus tau bagaimana rasanya ‘terjebak’ berada di tengah-tengah wanita super ini, sesaat sebelum Elf parkir dan kami turun dari mobil para wanita ini sibuk mempersiapkan ‘peralatan lenong’ seperti topi, kacamata dan sunblock, ya saya berada diantara para wanita yang sibuk mengoleskan sunblocknya, duh duh rek’ sini ta’ olesin sunblocknya satu-satu saya bersedia kok #eh *kemudian ditendang rame-rame ke laut*.

Pantai Bakelambang, kami sampai!!!

Pantai Balekambang, Ramai Pengunjung di hari Minggu
Pantai Balekambang, Ramai Pengunjung

Sesaat kemudian kami baru menyadari kalau pantai ini kok rame banget pengunjungnya, mirip pengunjung pantai anyer-carita lah, “wahhh alamat susah dapet spot bagus buat ambil foto ini sih” kataku dalam hati, memang hari itu hari Minggu, jadinya ramai dan sepertinya ini menjadi pilihan mayoritas masyarakat mengingat banyaknya mobil pribadi, Elf bahkan Bus besar serta motor yang parkir di kawasan tersebut. Kami berjalan menuju pantai, pasirnya putih namun masih kasar terlihat dari butiran butiran pasirnya yang cukup besar, kami datangi pertama kali daerah sekitar karang-karangnya, seperti biasa ritual ambil foto dilakukan oleh masing-masing dari kami dan tak ketinggalan pose andalan serta berfoto bersama. Disini jangan mengharapkan sinyal handphone dari provider selular manapun , sudah pasti ‘koit’ bkebetulan dari 14 orang yang ada menggunakan provider yang berbeda semua dan hasilnya sama, ‘no signal’ hahaha. Dari jauh sudah terlihat Pulau Ismoyo yang dihubungkan jembatan dengan Pura yang dinamakan Pura Luhur Amertha Jati diatasnya yang menjadi ikon Pantai Balekambang di Kecamatan Bantur, Malang ini.  Setelah jalan lumayan jauh barulah kami merasakan pasir yang lumayan agak bagus dibanding tempat pertama kami turun, saya pun cukup takjub sebab baru kali ini benar-benar langsung melihat pantai dengan air laut dengan gradasi warna biru-hijau yang sangat mencolok ditambah airnya yang begitu bening, sumpah ini keren. Beberapa diantara kami pun begitu kepingin untuk menceburkan diri sekedar bercengkrama dengan laut Balekambang namun sayang banyak alasan sehingga kami tidak bercengkrama dengan air laut tapi tidak dengan saya, saya mencoba merasakan menceburkan diri walaupun hanya sebatas sampai permukaan air laut diatas dengkul sedikit dan agak panik ketika pecahan ombak datang karena harus menyemalatkan tankbag 7Gear mini dan juga handphone tentunya “wahhh sepertinya gue disambut nih” gumam saya dalam hati. Sambil mencicipi air laut yang menyentuh sampai batas dengkul saya pun mengambil gambar ikon Pantai Balekambang yaitu Pulai Ismoyo yang terhubung dengan jembatan untuk mencapainya.

IMG_20130929_121118
Air laut yang bersih di Pantai Balekambang, yakin nih gak mau nyebur?:mrgreen:
Balekambang
Gradasi warna air laut di pantai balekambang ini benar-benar mengagumkan
Pantai Balekambang, dilihat dari atas jembatan yang menuju Pulau Ismoyo
Pantai Balekambang, dilihat dari atas jembatan yang menuju Pulau Ismoyo
Pulau Ismoyo, Balekambang
Pulau Ismoyo, Balekambang
dari sisi barat sini, Pantainya landai dan bisa digunakan untuk bermain air laut
dari sisi barat sini, Pantainya landai dan bisa digunakan untuk bermain air laut

Banyaknya pengunjung yang mendatangi Pantai Balekambang membuat kami harus sedikit bersabar dan mengantri untuk menyebrang melewati jembatan penghubung menuju Pulau Ismoyo tersebut, bahkan banyak pula pengunjung yang terdiri dari rombongan besar berfoto di jembatan dengan latar belakang Pura yang ada di Pulau Ismoyo terlihat begitu indah sepertinya merupakan hal yang wajib. Namun harus hati-hati, sebab jembatan ini pun cukup kecil, batasannya pembatasnya pun hanya sampai sepinggang orang dewasa, selain itu hanya cukup 2 orang melintas dikedua arahnya bahkan saya pun kadang bergidik takut terjatuh kalau harus minggir akibat berpapasan dengan pengunjung lain yang rombongannya lebih banyak.  Areal Pura Luhur Amertha Jati yang berada diatas Pulau Ismoyo tertutup, tidak bisa sembarang dimasuki sembarang orang, Pura dibuka jika hanya ada kegiataan keagamaan yang melibatkan Pura tersebut, itupun kita harus mengenakan pakaian/kain sama seperti jika ingin masuk Pura di tempat lain. Tapi menurut saya seharusnya sih ketika di jembatan tersebut pengunjung harusnya sudah dicegat dan diberikan kain yang biasa digunakan ketika masuk wilayah Pura, karena saya pun merasakan tepat dipijakan kaki setelah jembatan ini sudah merupakan areal suci Pura, ditandai dengan wewangian kemenyan yang saya cium cukup pekat.

Bagi pengunjung yang malas kembali ke areal pantai karena harus berjalan kaki kembali menyebrang jembatan, mereka bisa memanfaatkan sarana permainan FlyingFox yang diluncurkan dari atas Pulau Ismoyo menuju areal pantai jadi asik kan menghemat tenaga dan bisa nyebrang sembari  meluncur bergelantungan diatas laut ehehehe, hampir semua rombongan jkami mencoba flyingfox tersebut bahkan ada yang sampai hingga 3x hanya untuk mendapatkan foto yang maksimal kerennya (katanya), tapi tidak bagi saya, dibanding keluar Rp.20.000 lebih baik saya jalan kaki, lagi pula saya penasaran dengan area barat pantai ini (bukan karena takut! Catet yah):mrgreen: . Benar saja, jika kita berjalan lebih ke barat maka kita akan menemukan aliran air laut yang menjadi semacam danau/rawa kecil, saya pikir tempat ini akan lumayan sepi, namun ternyata ramai juga pengujung yang disini selain karena banyak pepohonan rindang dan juga tidak ada ombak jadi aman buat para anak kecil, tentunya tetap harus dibawah pengawasan orangtua, oiya pasir di areal sini lumayan bagus dibanding yang sebelumnya kami lewati, sayang cuaca saat itu begitu terik menyengat kendati hawanya sebenarnya agak sejuk.

dari sisi barat Pantai Balekambang, Pasirnya lebih bersih
dari sisi barat Pantai Balekambang, Pasirnya lebih bersih

Selesai menikmati pantai dan berfoto kami pun menepi ke warung yang ada di sekitar pantai tersebut untuk minum es degan, sayang es degan yang disajikan untuk pemanisnya menggunakan gula pasir bukan air gula, agak kecewa sih, karena rasanya pasti beda, akhirnya saya mengambil gula pasir yang masih menumpuk di bagian bawah dalam kelapa kemudian membuangnya dan  hanya meminum air kelapanya serta mengeruk daging kelapa dengan sendok, lumayan kelapanya enak, ehehehe. Bagi pengujung yang muslim pun tak perlu khawatir, banyak disediakan tempat ibadah plus kamar mandi/toilet yang cukup bersih disini bahkan tempat-tempat penjual cinderamata/souvenir ditempat itu pun juga menyediakannya. Jangan takut terhadap para penjual disitu , tempat/lapak jualan si pedagang yang saya singgahi untuk solat dan membersihkan kaki-tangan dari pasir-pasir cukup ramah, bahkan ketika balik menuju Elf yang diparkir saking kepinginnya makan gorengan saya mendekat ke warung yang hanya digelar dengan meja dan berbataskan spanduk provider selular, 4 buah bakwan udang yang cukup gemuk dan empuk saya makan dengan lahap dan ketika saya tanya harganya si ibu penjual menjawab “
4 ribu mas”, hah? beneran 4 ribu doang nih, saya keluarkan uang 10 ribu rupiah untuk membayarnya namun si ibu berkata bahwa dia tak punya kembalian dan mempersilahkan saya untuk kembali ke Elf dan melanjutkan perjalanannya, lah?? Maksudnya? Gak bayar gitu?  Si ibu hanya tertawa sambil bilang “yaudah gak apa-apa mas”, saya paling gak tegaan akhirnya ke tukang bakso dan menukar recehan 10 ribuan tadi dengan 2 ribuan dan saya bayar ke si ibu sambil bilang, “
bu, bakwannya enak deh, apalagi kalo ada sambel kacangnya” si ibu hanya mengucap terima kasih dan tertawa. Balekambang memang keren, namun sayang pengujung saat itu terlalu ramai sekali tapi tak apalah, ini sudah cukup menyegarkan pandangan mata bahwa pesona Balekambang memang benar adanya dan menjadi pantai primadona di Malang Selatan.

This slideshow requires JavaScript.

Selanjutnya ke wisata religi Pantai Nganteb

4 thoughts on “#MalangBromoTrip : Pantai Balekambang, Primadona di Selatan Malang

    archnine said:
    October 9, 2013 at 11:19 am

    wah wah wah.. ane yang di malang saja belum nyampe sono:mrgreen:

    Like

    blognyamitra said:
    October 9, 2013 at 5:23 pm

    wahhh…

    Like

    an said:
    August 8, 2015 at 12:49 pm

    waah blm kesana padhal tinggal di malang😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s