#MalangBromoTrip: Perjalanan 18 Jam di Dalam Matarmaja Menuju Malang

Posted on Updated on


penuh, dalam gerbong KA Matarmaja
penuh, dalam gerbong KA Matarmaja

Jakarta, 28 September 2013,

Perlahan kereta pun mulai melaju meninggalkan Stasiun Pasar Senen, Jakarta sekitar pukul 2 siang, telat sekitar 30 menit dari waktu keberangkatan yang seharusnya, belakang juga saya tau dari petugas yang berada di dalam kereta bahwa kedatangannya telat. Saya berada satu gerbong dengan rombongan teman-teman perjalanan satu trip ini, beruntung bagi saya masih bisa mendapatkan tiket H-7 sebelum keberangkatan dengan gerbong yang sama. Sayangnya tempat saya duduk terpisah, ah terlanjur, mari menikmati. Tempat duduk saya pun tak ada yang menarik dan saling diam, iseng saya pindah ke kursi yang kosong tepat di seberang teman-teman rombongan, saya pun berkenalan dan saling bertukar cerita dengan bapak yang menuju ke Tegal, kita bercerita banyak mengenai soal bisnis jual beli dan perbaikan alat berat. Keren kan bahasan di kereta ekonomi begini.hahahaha. Berawal darisinilah saya berpindah-pindah kursi mencari tempat kosong yang enak untuk ditempati, sama seperti mencari tambatan hati kan? #halahhalah

Jam 2 siang – jam 5 sore

Rangkaian kereta api Matarmaja saat itu cukup ramai dipenuhi oleh penumpang, mungkin karena tepat di hari Sabtu yang merupakan akhir pekan juga jadi pilihan tepat, selain itu banyak juga rupanya rombongan backpacker lain serta rombongan yang sepertinya akan melakukan pendakian ke gunung, terlihat dari tampilan dan bawaan mereka. Dengan harga tiket Rp 65.000,- tergolong cukup murah karena sudah disubsidi 50% dari Rp 130.000,- pantas saja ramai dan cukup penuh, apalagi meski kelas ekonomi Matarmaja ini dilengkapi Ac didalamnya yah sedikit nyaman. Kereta melaju cukup cepat, jam 5 saja sudah memasuki Stasiun Cirebon dan berhenti untuk ‘silang’ alias gantian lewat dengan kereta dari arah yang berlawanan.

Jelang Senja di Stasiun Cirebon
Jelang Senja di Stasiun Cirebon

Jam 6 sore – jam 12 malam

Begitu selepas Cirebon kereta baru melaju cukup cepat dibanding sebelumnya. Melewati waktu Maghrib gerbong di dalam mulai terasa dingin, masih cukup tertib karena tidak ada pedagang yang naik ke gerbong. Saya yang tadinya duduk di kursi 10 E terpaksa pindah-pindah menjadi musafir, karena tempat duduk 11A yang 3 baris sedang ditempati oleh bapak-bapak berperawakan lumayan nyeremin:mrgreen: “ahh males lah mending cari kursi lain aja” setelah beberapa kali pindah kursi akhirnya saya mendapatkan kursi di nomor 14C (kursi 3 orang) karena kosong jadinya saya disitu, lumayan lama sampai nunggu hingga akhirnya ditawarin Pop Mie😀, “broh mau Pop Mie gak?” tawar teman satu perjalanan yang tanpa pikir panjang saya iyakan tawarannya, jadilah hampir selama setengah jam lebih menunggu air panas untuk menyeduh Pop Mie, yang anehnya teman saya yang menawarkan Pop Mie malah makan Mie rebus pake telor, curang!. Selesai makan saya kembali ke kursi tempat duduk saya semula di deret nomor 11, sebelumnya tidak saya tempat karena tidak tega dengan si ibu yang tidur begitu pulas, sempat dibangunkan oleh penumpang lain namun saya memilih mencari kursi yang lainnya, tapi mendekati jam 11 malam saya pun kembali pindah ke kursi awal, karena lagi-lagi kursi yang saya tempat memang punya orang lain😀 hehehe. Ditengah perjalanan setelah Pekalongan menuju Semarang saya sudah mencoba tertidur dan berhasil hingga masuk ke alam mimpi, dengan posisi kursi yang tegap ala militer dan hawa yang cukup dingin saya berhasil tidur, namun sayangnya terbangun karena suara pedagang yang mulai masuk ke dalam gerbong menjajakan dagangannya, “set dah hampir jam 12” begitu lihat jam tangan.

'Gak apa-apa ayah dibawah, asal kamu tidur nyenyak nak'
“Gak apa-apa ayah dibawah, asal kamu tidur nyenyak nak”

Jam 01 pagi – jam 03 pagi

Satu-persatu para pedagang mulai berseliweran didalam gerbong kereta, seingat saya mungkin sudah ada 3x bolak balik mulai pedagang batik, kopi hingga makanan lainnya. Pedagang-pedagang diatas gerbong ini hebat, mereka dengan lihai dan lincah mirip seperti iklan pelangsing meliuk ketika berpapasan dengan pedangan lain serta dengan satu tangan memegangi dagangan dan tetap dengan keseimbangan yang terjaga ditengah lajunya kereta, luar biasa:mrgreen: . “kalo begini mah mana bisa merem nih” akhirnya kuputuskan coba merem-merem maksa namun pada akhirnya gak bisa juga hingga sampai sekitar hampir jam 2 saya tertidur dengan berbalut Jaket dan Buff sebagai penahan hawa dingin. Kembali terbangun sekitar jam 3 dan mulai merasakan lapar walaupun pada jam 10an tadi sudah menyantap Pop Mie namun tetep aja, saya butuh nasi😀 , beruntung ada mbok-mbok yang jual nasi pecel , setauku posisi kami saat itu sudah menuju Madiun atau Tulungagung yah lumayan, nasinya masih hangat, nasi pecel seharga Rp 5.000,- lumayan mengisi ‘sahur’ niat mau tidur kembali pun terganjal karena ibu sebelah saya duduk mengajak berdiskusi dan kemudian……dia bercerita panjang lebar soal anaknya. Oh Tuhan…bantu saya, please. Hampir setengah jam hingga mendekati pukul stengah 4 setelah melewati Madiun dan saya harus meladeni curhatan si ibu ini, kurang berbakti apa coba hah?!:mrgreen:

Jam 04 pagi – jam 7.30 pagi

“broh…broh…itu emak2 ngapa nada ngomongnya jadi tinggi gitu, lau kasih masukan apaan?” begitu isi tweet dari teman saya yang satu gerbong ketika saya mengecek tab mention di twitter. “baek-baek broh :ngakak” katanya lagi. Ini rombongan depan bukannya bantuin tapi malah mentertawakan saya *lempar botol*.  Beruntung saya melihat ke arah belakang ada kursi yang harusnya untuk 3 orang kosong dan dengan cepat saya berpindah posisi ke kursi yang jaraknya mundur 3 kursi dari yang saya tempati, “ah gak peduli deh siapa yang disini, gue butuh tidur” begitu kata saya dalam hati, atur tas daypack sebagai bantalnya, kebetulan colokan listrik kosong langsung saya manfaatkan untuk mencharge powerbank dan handphone dan kemudian tidur hingga hampir sekitar jam 6. Dapat 2 jam tidur dengan posisi rebahan bukan duduk sudah cukup, sumpah, ini melelahkan dan beruntung saya bisa tidur pulas dengan merebahkan diri di kursi. Saya terbangun di Stasiun Blitar saat itu, dan langsung ke toilet untuk berwudhu dan solat Subuh, telat? Tapi yah daripada nggak sama sekali. Keadaan di luar sudah mulai terang namun saya tidak mau menyia-nyiakan tempat dan posisi yang enak saat itu, jadi sehabis itu saya memilih tidur lagi hingga sekitar jam 7 rupanya kereta sudah memasuki daerah Malang, lumayan seger sejenak karena bisa tidur. Tepat pukul 7.28 waktu Malang kereta tiba di pemberhentian terakhir Stasiun Malang, kami semua bergegas turun, kulihat wajah-wajah riang dari mereka, saya pun juga karena telah menjejakkan kaki di kota Malang. “Wuah..bener-bener 18 jam rupanya” ujar saya begitu menghitung lamanya waktu perjalanan dari Jakarta hingga Malang.

Stasiun Malang (Foto by Adania Taylor York)
Stasiun Malang (Foto by Adania Taylor York)

One thought on “#MalangBromoTrip: Perjalanan 18 Jam di Dalam Matarmaja Menuju Malang

    blognyamitra said:
    October 9, 2013 at 5:22 pm

    wohhh…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s