Melihat Sisi Lain Dari Pemudik

Posted on Updated on


Malam tadi sepulang dari acara buka puasa bersama teman-teman kampus saya yang ingin merasakan aura mudik pun memilih pulang melewati jalur utama pemudik tepatnya melewati jalan Daan Mogot Jakarta Barat. Sepanjang perjalanan itu pula saya merasakan spirit dari para pemudik yang menggunakan motor, namun sayangnya tetap saja ada sedikit perasaan pilu di hati ini.

Pilu hati ini terasa ketika melihat bocah kecil nan lucu memeluk bantal spongebob sedang tertidur dengan bersandar sang ibunda diatas sadel jok motor, sementara sang ayah terlihat penuh tanggubg jawab berada didepannya terlihat tegar waspada dalam mengemudikan motornya. Tak ada helm yang melekat di kepala bocah kecil nan lucu itu, bahkan tudung kepala jaketnya pun tak dikenakannya, dingin? Sudah tentu namun rasanya sesekali usapan tangan sang ibunda dikepala bocah kecil itu mungkin terasa hangat. Sayangnya tetap saja ia tidur dengan diterpa angin malam dan debu jalanan.

Tak kalah pilu hati ini ketika saya melihat bayi yang masih terbalut selimut tebal sedang berada dalam dekapan sang bunda juga ikut berjuang dalam perjalanan mudiknya.

Dan hati ini kembali berucap sesal campur perih ketika melihat pemotor yang mudik dengan breket bambu dan barabg bawaan meninggi dibelakangnya beradu kencang dengan pemotor lain. Ya Tuhan. Lindungi mereka.

Seharusnya bocah kecil nan lucu tadi bisa tidur dengan lelap bersandarkan kurilsi bus/kereta sambil memeluk bantal spongebob ditambah pelukan ayah dan bundanya mungkin bisa jauh lebih hangat, bukan berada di jalanan seperti tadi.

Seharusnya bayi yang terbalut selimut tebal dalam dekapan sang bunda berada diatas kursi bus/kereta dengan udara yabg hangat. Bukan berada diatas jok motor seperti tadi.

Tapi mereka-mereka ini seolah berkata “jangan halangi kami untuk mudik. Ini cara kami.” Ya tuhan, lindungi mereka sampai mereka kembali lagi dengan selamat.

Dan memang sudah seharusnya pemerintah memfasilitasi secara cuma-cuma bagi mereka yang melakukan ritual pulang kampung setiap hari raya ini.

Saya menulis ini Senin, 5 Agustus 2013 malam hari disebuah spbu setelah melihat realita para pemudik yang menggunakan motor.

2 thoughts on “Melihat Sisi Lain Dari Pemudik

    Yoshi said:
    August 6, 2013 at 10:04 am

    memang sedih kalo lihat anak kecil yang belum bisa menikmati perjalanan, diajak mudik seperti itu. masalahnya tiket bus mahal, tiket kereta susah didapat.

    Like

    Triyanto said:
    August 9, 2013 at 12:04 am

    gw baru mudik malam ini dianter bos… itupun cuma Karawang😀

    ———————————
    tulisannya mulai bagus lu Wo, koreksi, kata “mereka” sudah menunjuk orang banyak, ga perlu diulang

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s