Cerita Tentang Pak Tua si Penjual Koran

Posted on Updated on


Koran, dengan si penjualnya yang kerap disebut loper koran di jaman serba digital pun masih banyak, bisa ditemui di berbagai belahan sudut kota seperti di perempatan lampu lalu lintas, pom bensin, terminal bahkan di emperan pertokoan. Saya yang sudah lama sekali tidak membaca koran yang sesungguhnya, maksudnya disini saya lebih sering membaca berita via media digital bukan koran yang dalam bentuk sesungguhnya merasa ada ‘panggilan’ agar membeli dan membaca koran.

Panggilan itu..sekitar minggu lalu ketika dalam perjalanan menuju kantor saya mengisi bensin, tak lama setelah mengisi bensin motor saya bermasalah, lampu depan jadi ala ala disko alias mati hidup mati hidup. “Wah gak beres ini sih” ujar saya dalam hati.

Akhirnya motor saya parkirkan masih di pom bensin saya coba menelpon mekanik langganan agar bisa diatasi say sendiri dengan bantuan telepon mekanik namun hari yg masih terlalu pagi bagi mekanik membuat telepon saya seakan ia-sia. “Okelah ini apanya yahh bohlamnya atau saklarnya” ujar saya. Kebetulan disamping saya ada penjual koran lengkap dengan rompi yang menandakan sebagai penjual koran dan tentengan korannya, entah kapan dia berada disamping saya, saya pun tak tahu.

Tak lama mekanik saya menelpon dan langsung menyuruh saya mengganti sikring voila troble solved!. Sembari cuci tangan dan duduk sejenak saya coba berbincang dengan si penjual koran. Sebut saja pak Tua, memang karena raut wajahnya yang menyiratkan demikian.
“Sudah 3 tahun mas saya berjualan koran..yahhh begini inilah” ujar pak Tua ketika saya tanya sudah berapa lama berjualan.
Dia bercerita sedikit tentang masa lalunya, mulai dari PHK di tempat dia bekerja hingga kehidupan yang menurutnya juga gak kunjung membaik. Tapi dia pantang menyerah, pantang baginya hanya duduk berpangku tangan mengharap belas kasihan orang.
“Jangan mengasihani saya karena saya gak bisa punya apa apa, saya akan tersinggung bahkan marah jika tau ada orang yang mengasihani saya karena itu..lebih baik beri saya pekerjaan dan akan saya kerjakan semaksimal yang saya bisa” tegasnya saat itu yang disertai dengan senyum.sebuah semangat yang patut dijadikan contoh dan sebuah sentilan bagi saya pribadi. Munkin ini yang dinamakan hikmah Ramadhan.

“Ahh pas..rasanya saya perlu membaca koran hari ini..” kata saya dalam hati seakan menegaskan saya harus membeli koran itu. Saya pun kemudian memanggil pak Tua yang sedang menjajakan korannya disekitaran pemotor dan pemobil yang antri mengisi bensin.
“Loh beli dua mas? Buat apaan dua koran dengan jenis koran yang sama” ujarnya bingung ketika saya membeli koran Harian Bola dan koran Top Skor.
“Mau ngebandingin beritanya pak” jawab saya sekenanya.
Sejujurnya saat itu saya membeli dua koran karena sedari tadi saya tidak melihat orang lain yang membeli koran di pak Tua itu. Bukan iba apalagi bermaksud riya, saya hanya coba membantu, karena saya melihat wajah yang berseri-seri dari pak Tua ketika saya memanggilnya dan membeli koran darinya. Mungkin bagi kita dua ribu rupiah biasa saja bahkan tergolong kecil tapi bagi mereka (para loper koran) hitungan koran yang terjual itulah yang menghidupi mereka. Mungkin.
Jadi gak ada salahnya bantu mereka loper koran dengan cara membeli koran yang dijajakannya. Apalagi membaca koran itu nikmat ditambah diselingi dengan biskuit dan teh panas.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s